OzAlum Podcast
Do you ever wonder how Australian alumni have gone on to achieve success after studying in Australia? Now you have the chance to find out as our alumni share unique stories about their experiences, knowledge and networks gained while in Australia that have helped them most in their journeys and key intersections of opportunity and alumni connections that have propelled them to where they are today. We have some talented alumni guest hosts lining up for exclusive interviews with our guests. Listen in our OzAlum podcast find out how these inspiring alumni let their lives speak and the unexpected twists and tale of life at each intersection along the way.
OzAlum Podcast
Eps #20: Bagaimana Rasanya Belajar dan Tinggal di Australia, Negara Multi Budaya?
Use Left/Right to seek, Home/End to jump to start or end. Hold shift to jump forward or backward.
Dalam episode terbaru OzAlum Podcast, kami hadirkan Dr Ahmad Agus Setiawan, Tenaga Ahli Energi di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, yang juga #OzAlum bergelar PhD di bidang Renewable Energy and Power Systems. Bersama pembawa acara Raissa Almira, mereka membahas "Bagaimana Rasanya Belajar dan Tinggal di Australia, Negara Multi Budaya?"
Dalam obrolan yang menarik ini, Dr Agus menjelaskan pengalaman belajar dan tinggalnya di Australia, negara multi budaya. Dia berbagi impresi pertamanya saat tiba di Australia, bagaimana menghadapi "culture shock", dan pengalamannya beradaptasi dengan lingkungan akademik. Kamu juga akan mendapatkan cerita tentang pengalamannya membawa keluarga ke Australia dan bagaimana mereka beradaptasi dengan budaya yang berbeda. Tidak hanya itu, kamu juga akan mendapatkan pandangannya mengenai bagaimana studi di Australia berdampak positif terhadap perkembangan karirnya di Indonesia.
Bagi kamu yang tertarik untuk mengeksplorasi pengalaman studi di Australia dan menghadapi perbedaan budaya, episode ini menawarkan wawasan berharga. Simak podcast ini untuk mendapatkan pandangan langsung dari ahlinya dan pesan-pesan bijak, terutama bagi kamu yang ingin memperoleh beasiswa ke Australia. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk menemukan inspirasi dan saran dari seseorang yang telah menjalani pengalaman berharga di negara yang kaya akan keberagaman. Podcast tersedia di Spotify, Apple Podcasts, Google Podcasts, YouTube, dan website OzAlum.
*woosh*
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Kadang-kadang saya berpikir, kalau dulu saya Master dulu di Australia, persiapannya jauh lebih kuat.
*woosh*
Raissa Almira:
Betul sekali, kita diajarin IELTS, terus juga nulis akademik, pokoknya oke banget deh. Jadi kita tidak dibiarin aja gitu setelah keterima.
*woosh*
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Jadi saya merasa sangat bersyukur karena membawa keluarga kecil saya, membawa keluarga yang sangat awal, kita bertumbuh bersama itu di Australia.
*intro*
Raissa Almira:
Hello OzListeners, selamat datang kembali di OzAlum Podcast, sebuah podcast yang berisi 1001 cerita mengenai semua hal seru tentang Australia, tentang beasiswanya, tentang negaranya dan juga alumni inspiratifnya.
Hari ini, aku Raissa Almira kedatangan tamu yang spesial banget, yaitu Mas Ahmad Agus Setiawan.
Halo mas, apa kabar?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Baik. Gimana Mbak?
Raissa Almira:
Baik juga, alhamdulillah. Mas lagi sibuk apa nih sekarang?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Ya biasa mbak, kerja-kerja biasa. menyelesaikan tugas-tugas.
Raissa Almira:
Oh gitu ya? Oke, dulu mas juga PhD-nya di?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Energy di Renewable Energy System, Electrical Engineering di Curtin University.
Raissa Almira:
Oke, jadi lumayan lama ya stay di Australia ya?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya.
Raissa Almira:
Nah ini pas banget, kenapa? Berarti Mas Agus ini tau banget mengenai rasanya tinggal ya mas di luar negeri dan bagaimana perbedaan budaya, makanan, bahasa, dan semuanya. Jadi hari ini kita akan fokus ngomongin tentang itu ya Mas Agus ya.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, siap.
Raissa Almira:
Oke baik, jadi Mas Agus di Curtin University itu ngambil Electrical Engineering, tapi S2-nya juga di luar negeri kan mas ya?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, di Swedia, di bahasanya KTH The Royal Institute of Technology. Saya waktu itu mengambil Master in Sustainable Energy Engineering.
Raissa Almira:
Oke, nah itu bisa langsung belok ke Australia gimana tuh mas? Boleh cerita?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Nah itu ada ceritanya. Jadi ketika lulus mahasiswa dari UGM, saya S1 di Teknik Elektro UGM kemudian menjadi dosen di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, jadi geser dikit ke departemen satunya, masih di teknik.
Nah terus kemudian kita kan biasa, meningkatkan diri untuk studi lanjut, nah alhamdulillah dapet kesempatan beasiswanya dari Swedia, namanya Stint waktu itu, S-T-I-N-T.
Nah kemudian pulang studi itu ingin langsung saja melanjutkan untuk PhD di bidang lebih spesifik lagi di bidang Energi Terbarukan. Nah saat itu kita melihat ada beberapa peluang lah ya, banyak penyedia beasiswa dan alhamdulillah salah satunya Australia Awards, namanya dulu masih ADS, Australia Development Scholarships.
Nah disitu saya menginkan untuk melanjutkan studi saya spesifik di bidang Renewable Energy System and Planning.
Raissa Almira:
Oke baik dan Mas, selain menjadi dosen juga merupakan Staf Ahli Kantor Presiden ya mas?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya. Iya. Tenaga Ahli di Kantor Staf Presiden itu dimulai sejak 2019 itu kan setelah bekerja lama lah ya. Jadi kita kembali menjadi dosen kemudian bersama dengan mahasiswa, peneliti, dan seterusnya.
Tahun 2019 itu ada panggilan dari KPU untuk debat, panelis debat calon presiden waktu itu, antara Calon Presiden Joko Widodo dan Calon Presiden Prabowo Subianto waktu itu.
Nah saat itu bidangnya spesifik banget di bidang Energi, Lingkungan, dan sebagainya infrastruktur ya dan alhamdulillah berjalan baik dan lancar dan memang pertanyaan-pertanyaan yang saya ingin ajukan memang perkembangan pemanfaatan energi terbarukan ke depan.
Setelah itu ternyata di tahun 2020, saya masuk ke Kantor Staf Presiden dengan harapan ini adalah waktunya untuk mengawal bagaimana perkembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia. Harapannya seperti itu dan itu menjadi prioritas dari kerja-kerja Presiden. Begitu.
Raissa Almira:
Baik. Tadi kan mas pindah dari Jogja ya S1-nya ya?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya iya.
Raissa Almira:
Lalu ke Swedia lalu Australia. Apa sih gegar budaya yang paling wow yang mas rasakan saat pindah ke Australia?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya. Benar, jadi sebenarnya saya terbantu gegar budaya di Swedia sih. Jadi enggak kaget banget.
Raissa Almira:
Oke, jadi enggak kaget banget.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Antisipasi kagetnya sudah mulai bekerja di Swedia. Jadi bisa dibayangkan sampai dengan usia 25 lah ya, kita langsung dicabut dari akar kita, dibawa ke luar jauh utara, di Arktik ya. Disana kan Arktik beneran ya. Kita benar-benar ngerasain apa itu salju, hidup sendiri, saya sudah punya keluarga tapi saya tinggal karena beasiswanya enggak cukup untuk bawa keluarga. Nah itu juga yang menjadi bayangan di saya, kemudian saya harus mencari beasiswa yang memungkinkan saya membawa keluarga untuk S3-nya.
Nah kalau di Australia, berbeda karena persiapan-persiapannya ada, ada disiapkan semuanya ya. Kadang-kadang saya berpikir kalau dulu saya Master dulu di Australia, persiapannya jauh lebih kuat. Tapi kan yang namanya momentum itu enggak bisa ya, kita dapat momentum dengan cara yang berbeda-beda. Yang penting adalah memanfaatkan sebaik-baiknya. Kira-kira seperti itu.
Raissa Almira:
Mungkin sekalian promosi aja nih temen-temen, jadi untuk Australia Awards sendiri itu ada namanya Pre-Departure Training ya mas ya?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya iya dan itu sangat membantu.
Raissa Almira:
Betul sekali, kita diajarin IELTS terus nulis akademik, pokoknya oke banget deh. Nah jadi kita dibiarin aja setelah keterima.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, selain itu setiap kampus juga menyediakan, biasanya punya penyiapan.
Raissa Almira:
Betul, ada penyambutan juga ya?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Dan penyiapannya itu ga kalah ramenya dengan penyiapan kita waktu di Indonesia. Jadi bagaimana kita langsung dilatih dengan English for Academic Courses kemudian langsung dikenalkan A, B, C, D, E-nya, kemudian fasilitas-fasilitas di perpustajaan di Australia itu kebanyakan ya, ketika saya melihat berbagai kampus itu, mereka menyediakan pusat studi atau apapun itu dan itu membantu ketika kita ada tugas-tugas. Kalau saya lebih pada menulis disertasi, thesis, itu penting sekali.
Raissa Almira:
Betul. Mungkin kita balik lagi tadi kan mas bilang waktu di Swedia tidak bisa bawa keluarga ya?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya.
Raissa Almira:
Sedangkan di Australia bisa. Ada Australia Awards. Nah itu, pengalaman keluarga mas gimana tuh, apakah mereka juga harus adaptasi sangat besar saat pindah, mungkin cari mengenai perspektif mereka gitu dari yang mas lihat.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Jadi saya merasa sangat bersyukur karena membawa keluarga kecil saya, membawa keluarga yang sangat awal, kita bertumbuh bersama itu berawal di Australia, jadi kita kalau di Indonesia mungkin kita akan bersama orang tua, mertua, dan sebagainya kan akan ada disana seolah-olah kita itu merasa aman. Ada orang tua, ada mertua dan sebagainya tapi kalau disana, kita benar-benar tidak ada siapa-siapa, kita harus bertahan dengan gaya-gaya kita dan disitulah sesungguhnya pendidikan, ikatan keluarga yang pertama, awal dan menurut saya, saya juga mendapatkan kesempatan itu dan kesempatan itu diberikan melalui beasiswa itu.
Jadi ini lengkap sekali, belajar dari sisi akademik tetapi belajar dari kehidupan, memulai kehidupan berkeluarga istilahnya itu bener-bener di situ. Kita tau seperti apa anak-anak kita kesulitan untuk beradaptasi, tapi beruntung karena saat itu anak-anak masih kecil jadi mereka dengan mudah mengikuti kondisi apapun itu ya. Mereka juga ikut merangkap di TK-nya, SD-nya, begitu. Jadi mengikuti saja, tidak terlalu berat karena beberapa teman mengalami ketika anak-anaknya sudah cukup besar. Nah itu mungkin tantangan-nya lumayan, lumayan adaptasinya dan sebagainya. Seperti itu kira-kira dan ya alhamdulillah keluarga semuanya menikmati.
Raissa Almira:
Senang.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Kalau dibilang, inginnya terus disana.
Raissa Almira:
Bingung ya.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Karena komplit semua ada dan mungkin ini juga pengalaman cerita dengan temen-temen yang lain ya. Ada beberapa temen yang kebetulan mendapatkan tantangan, ada anggota keluarganya yang penyandang disabilitas. Di sana mereka, temen-temen ini merasa, "Oh enak sekali disini." Dukungan terhadap semua itu bener-bener sama.
Jadi ketika kita ketemu dengan teman yang kebetulan seperti itu, malah mereka menginginkan kalau disini terus akan bagus karena dukungannya dan mereka cukup khawatir ketika kembali ke Indonesia nanti kehilangan dukungan yang cukup kuat.
Raissa Almira:
Iya, saya juga merasa begitu sih mas. Itu kan sangat aman banget dan sangat stabil.
Nah ngomongin tadi soal keamanan sama juga untuk stabilitas, menurut mas gimana nih dari perspektif seorang student dulu ya saat S3.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, jadi saat itu kita meraba-raba seperti apa sih Australia itu. Kita kan juga punya cerita bagaimana Australia terbangun, bagaimana sejarahnya, bagaimana rasa-rasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan Australia waktu itu dan seterusnya ya ada cerita-cerita itu.
Kemudian kita juga, kalau disana itu kan pinginnya ketemu mana sih penduduk aslinya, yang terkenal kan Aborigin gitu ya dan kita juga bisa ketemu dan kebetulan di tempat sekolah anak saya itu juga ada kita punya temen-temen yang asli dari penduduk asli dan sebagainya.
Nah kita juga bisa kenal seperti apa sih kehidupan yang sebenarnya disana dan kita berbagi dengan semua dan termasuk keluarga-keluarga pelajar internasional kan banyak ya. Dari Pakistan, dari Arab, banyak sekali waktu itu di tahun-tahun itu memang sangat-sangat meriah. Cina pastinya, Korea dan seterusnya.
Jadi meriah kita bertemu dengan berbagai kultur dan alhamdulillah kita bisa belajar banyak dari berbagai sudut pandang dan realitas kehidupan tentunya. Jadi kita merasa kalau di Indonesia waktu itu kan rasanya saya orang normal, orang biasa, orang mayoritas ya.
Raissa Almira:
Mayoritas ya.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Sebagai seorang muslim gitu ya, paling gini-gini lagi. Disana kita bisa belajar "Oh, seperti ini rasanya." dan kemudian berempati dan kemudian semangatnya membawa itu kembali ke tanah air tentunya.
Raissa Almira:
Iya, berarti saya bisa rangkum mas, berarti belajar secara empati, emosional, tumbuh sebagai individual, bukan hanya dari akademis saja.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, benar benar. Terlalu sayang.
Raissa Almira:
Oke. Dan sepertinya semua orang yang sudah balik juga seperti itu ya mas. Belajar banyak mengenai kehidupan dari kehidupan di Australia.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, dan yang lebih menarik mbak, sebenarnya ini ada beberapa kasus, beberapa teman agak cukup khawatir ketika pulang membawa anak. Anaknya yang sudah tumbuh disana, karena apa?
Raissa Almira:
Kenapa tuh mas?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Cara pendidikan mereka kan relatif jauh berbeda, pola pikirnya, paradigmanya berbeda.
Jadi anak-anak disana bukan dikejar untuk mengejar kurikulum, bisa ini bisa itu, disana diberikan kebebasan, kenyamanan, dan itu yang ditakuti. Ketika kembali ke tanah air, di SD kita, di SMP kita, aduh, anak-anak tertekan dan sebagainya itu terasa.
Bahkan itu beberapa teman yang alumni Australia itu juga sampai membuat semacam gerakan-gerakan agar pengkondisian situasi kondisi anak-anak yang sudah kembali ke situasi yang relatif lebih ramah ke anak, ramah ke orang-orang yang barusan pulang itu juga dilakukan dengan bekerja sama dengan sekolahnya agar bisa lebih terlibat, lebih halus transisi ketika pulang dan seterusnya.
Raissa Almira:
Tadi mas sering bilang banyak alumni dari Indonesia gitu ya, berarti walaupun mas minoritas disana tapi banyak juga temen-temen Indonesia ya? Jadi tidak merasa sendiri banget disana.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, bener banget.
Raissa Almira:
Nah ngomongin akademis lagi nih, mungkin mas bisa komparasi saat mas S1 kali ya, karena kan di Indonesia sama S3 itu gimana perbedaanya dari sisi sistem pendidikan, dari Australia versus Indonesia. Boleh diceritakan tidak mas gimana strategi mas dulu untuk beradaptasi?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, jadi karena saya dosen di Teknik UGM, makanya ketika saya waktu studi di Swedia maupun di Australia, saya tidak meninggalkan keingintahuan seperti apa sih sebenarnya proses pendidikan yang dilakukan di Swedia maupun di Australia, semuanya saya pelajari.
Meskipun di Australia itu ketika kita ambil PhD, itu bisa langsung fokus pada riset saja, tapi yang saya lakukan adalah saya juga ‘sit-in’. hadir di kelas-kelas yang juga diikuti oleh mahasiswa S1 maupun post-grad, jadi saya ikutin termasuk kuliah-kuliah profesor saya, saya ngikutin sekaligus jadi tutor, jadi supervisor lab juga, maka saya pingin ngikutin seperti apa sesungguhnya, ya memang menarik cara pendekatan-pendekatan yang dilakukan, relatif sedikit berbeda cara pendekatannya dalam bentuk SKS dan sebagainya kan lain tapi lebih pada metodologinya dan seterusnya.
Nah, disana saya punya banyak pembelajaran yang kemudian bisa saya tarik kemudian besok kalau saya pulang akan saya terapkan juga di Indonesia. Meskipun itu membutuhkan dukungan, butuh juga semuanya itu mendukung agar itu bisa berjalan dengan baik. Tapi bahwa poinnya ketika kita melihat cara pembelajaran di sana, semua bisa sangat serius, untuk waktu serius tapi bener-bener santai dan bebas disaat yang bebas.
Jadi kalau kita, kita ga bisa membayangkan setiap saat semua anak musti di kampus, nggak. Ketika musim panas, ketika kosong, ketika libur ya libur. Tapi begitu besok ujian, minggu itu ujian, perpustakaan menjadi pasar malam. Jadi sangat ramai sekali, semua berharap untuk bersiap, bukan bersiap SKS sistem kebut semalam tapi memang mereka juga serius mempersiapkan diri, kerja kelompok dan sebagainya itu dilakukan.
Nah ini tuh dorongannya juga dari dosen-dosen juga. Ada tugas-tugas kelompok dan seterusnya.
Raissa Almira:
Iya. Saya juga merasakan saat saya di sana itu, mereka itu oke banget ‘work-life balance’-nya mas. Jadi kalau lagi main ya main aja, tapi tidak lupa sama PR.
Oke baik, mungkin kita beralih ke kegiatan yang non-akademis ya mas.
Mas ikutan tidak sih seperti PPI ataupun yang lainnya sekiranya membuka mata mas mengenai keberagaman budaya di Australia?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Jadi di Australia itu kita kebetulan untuk temen-temen Indonesia kan juga pada aktif di kegiatan-kegiatan temen-temen pascasarjana ya. Di sana ada banyak lah kegiatan-kegiatannya dan juga bukan hanya kegiatan secara akademis yang biasanya, juga sosial dan sebagainya, dan juga bekerjasama dengan, kalau disana Konjen ya, di Perth itu.
Ada kegiatan-kegiatan sosial, kegiatan yang semi-akademis, diskusi dan sebagainya, sumpah pemuda dan sebagainya kaya gitu ya, upacara dan seterusnya. Tapi juga ada yang sifatnya lebih spesifik pada kebidangan kita ya. Jadi seperti IEEE, IEEE itu untuk Electrical Engineers. Kemudian ada RSWA, Royal Society of Western Australia, kita juga ikut. Kemudian ada Engineers Without Borders.
Raissa Almira:
Oh ada ya? Kirain dokter aja, ada ‘Engineers’ juga ya. Oh wow.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, ada. Jadi EWB itu seluruh dunia juga kebetulan di Western Australia juga cukup kuat dan kemudian pada titik tertentu kita disana itu ada namanya Symposium Postgraduate Students di Western Australia. Jadi setiap tahun itu muter saja untuk engineering itu, spesifiknya di Electrical Engineering. Kita muter dari kampus ke kampus. Kampus-kampus yang ada di Western Australia itu gantian jadi tuan rumah, kita presentasi makalah dan seterusnya.
Nah, kasus-kasus itu membuat kita bisa tau kehidupan-kehidupan baik itu di akademik maupun non-akademik itu juga ada ya.
Raissa Almira:
Iya, karena pasti juga bertemu dengan teman ya? Jadi tidak harus ngomongin yang serius terus.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, pastinya.
Raissa Almira:
Nah dari situ kita belajar banyak mengenai kehidupan dan juga banyak hal lainnya.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, dan kita juga ketemu dengan temen-temen misalnya Arab, saat itu kan banyak itu. Itu terutama ketika bulan-bulan Ramadhan, itu kan kita jadi punya kegiatan dan kita juga tau seperti apa sih kalau orang Arab di bulan Ramadhan apakah seperti kita persis gitu ya.
Raissa Almira:
Ada perbedaan ya?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Ada perbedaannya dan seterusnya, kita juga ngerasain Iftar bersama, buka bersama dan seterusnya, itu kita bareng-bareng dengan mereka dan seterusnya.
Raissa Almira:
Terasa hangat sekali ya, jadi kita buka puasa bareng dari kewarganegaraan yang berbeda. Tadi mungkin mas sudah sering cerita ke kita mengenai poin-poin apa sih yang mas sudah dapatkan dari sana, mungkin bisa di rangkum aja mas, ketiga poin nih, apa sih nilai-nilai antar budaya yang mas pelajari, yang mas bawa nih ke Indonesia, mungkin tiga aja bisa dirangkum.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Oke, jadi belajar dari tadi ya, bahwa di Indonesia kalau kita nongkrong di Indonesia, kita merasa aman, kita merasa mayoritas, kita tidak pernah merasakan seperti apa sih menjadi minoritas. Nah ini menjadi sangat penting untuk kita rasakan, kita berempati juga ketika kembali ke Indonesia.
Kemudian semangat bekerja, kerja sama itu jadi sangat penting ya, kerja sama tim. Jadi setiap individu yang berangkat ke sana itu ingin untuk meningkatkan diri. Semangatnya disana.
Dan mungkin yang ketiga, bahwa multikultur itu sebuah keniscayaan ya, kita akan bertemu dimana saja, kapan saja, dan yang lebih penting bagi kita, kita beradaptasi, toleransi dan bisa menjaga semangat masing-masing. Tentunya menghargai satu dengan yang lain.
Raissa Almira:
Dan dari ketiga poin itu, apa sih mas dampak terbesarnya untuk karir mas sekarang sebagai dua tadi, dosen dan juga staf ahli?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya. Nah, artinya kita menjadi orang yang bisa berempati ya pastinya, bisa memahami bagaimana masing-masing itu punya latar belakang, asal perseorangan, itu sangat menentukan orang atau individu itu berasal dari mana, latar belakang keluarga sangat menentukan, belum lagi nanti latar belakang kultur, budaya, agama mungkin ya, kemudian bangsa.
Artinya kita bisa memahami semua perhatian itu dan kita bisa memberikan toleransi yang cukup untuk kita semuanya bisa berkembang.
Raissa Almira:
Betul. Baik. Mungkin pesan terakhir dari Mas Agus nih, kira-kira ada tidak sih yang mas mau sampaikan ke peninton semua, yang masih takut untuk daftar AAS, takutnya aduh luar negeri nih, bule semua gitu mas. Boleh diceritakan.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Oke, Baik, jadi teman-teman sekalian tentunya menjadi sangat penting untuk kita meningkatkan diri, apapun itu, pengetahuan kita kemudian skill kita dan sebagainya. Dan salah satu yang menyediakan untuk bisa kita melakukan itu dan didukung oleh beasiswa itu adalah AAS, Australia Awards Scholarships dan kebetulan namanya sama dengan singkatan nama saya.
Raissa Almira:
Silahkan di bajunya.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Saya namanya Ahmad Agus Setiawan juga AAS juga. Australia Awards Scholarships, dan di Australia Awards Scholarships bener-bener anda akan disiapkan dimulai dari nol sampai dengan bersiap sampai dengan penyiapan bahkan disisi kultur, kemudian isu-isu terkait dengan sosial dan sebagainya.
Jadi tidak hanya akademik, untuk bahasa inggrisnya nanti akan ada kursus dan sebagainya, menyesuaikan kapasitas kita masing-masing dan ketika sudah siap, di sana pun kita akan bertemu dengan universitas yang juga siap untuk menyambut masing-masing mahasiswa, dan ketika sudah disana, kita bener-bener disiapkan, dan kemudian masuk ke masa pembelajaran dan seterusnya.
Dan menjadi menarik di sana adalah jika kita memerlukan, maka anda cukup berteriak, minta tolong, ‘help me’ dan sebagainya itu bener-bener tersedia semuanya siap untuk membantu kita.
Sebagai contoh, ketika mungkin temen-temen juga bisa membayangkan biasanya nulis skripsi dengan Bahasa Indonesia, tiba-tiba tuntutannya besok adalah anda menulis dalam Bahasa Inggris, tapi nyatanya bisa. Artinya apa? Sistem pendukung ada di sana, di sana ada yang namanya pusat studi di kampus-kampus, di perpustakaannya dan sebagainya. Kita kemudian bisa mengambil waktu khusus untuk bantuan-bantuan itu dan sebagainya tersedia. Itu yang paling menarik mungkin ketika kita belajar di Australia.
Raissa Almira:
Ya baik, benar sekali, jadi saya juga saat dua tahun yang lalu, saya di Bali mas sambil nunggu. Itu juga tidak hanya ngomongin IELTS sama karena juga diajarin cara apa ya, berbaur sama orang Australia, mereka suka ‘barbeque’-an, mereka suka ke pantai lah, itu diajarin temen-temen. Se-detail itu ya untuk Pre-Departure Training itu dan juga saat saya sampai, lima minggu juga ada ginian juga di Melbourne, jadi memang dua kali untuk pelatihannya ya.
Jadi sebagai Alumni dari Australia Awards, selain kita nih sekarang lagi buat podcast juga yang lain-lainnya, apa sih yang mas pernah lakukan ataupun kontribusikan nih?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Baik, ini yang menarik, bagi saya paling menarik adalah ‘Life after PhD’. Saya bahkan punya PPT, presentasi itu dimana-mana saya sampaikan juga. ‘Life after PhD’. Kenapa?
Saya merasa Australia Awards Indonesia itu sangat membantu proses karir saya terus terang. Jadi setelah saya pulang itu saya selalu terlibat dengan berbagai acara-acara kegiatannya. Saya menjadi Alumni Reference Group, pertama di tahun 2010 dibentuk itu namanya ARG dan saya menjadi satu diantara eksekutifnya selama berapa tahun gitu ya.
Ini adalah bentuk-bentuk dukungan yang selalu dilakukan, tidak berhenti sampai jadi alumni. Menarik ya.
Raissa Almira:
Menarik sekali ya.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Dan mungkin memang inilah keunggulannya. Jadi kalau bahasa kendaraan itu, ‘after service’nya. Itu menjadi sangat menarik untuk kita-kita alumni, kita terlibat, tidak berhenti, ya bener.
Raissa Almira:
Berarti tidak berhenti hanya sampai wisuda ya mas? Lalu juga ada Alumni of the Year, mas pernah dapet ya penghargaan itu?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya alhamdulillah waktu itu dapet. Jadi itu dari Curtin, dari kampus kebetulan, jadi sebenernya ada beberapa kejadian, tahun 2011 itu namanya Australia Alumni Awards, saya mendapatkan untuk bidang Social Development. Sustainable Development.
Jadi saat itu yang kita angkat adalah bagaimana setelah pulang dari Australia, kita memanfaatkan teknologi-teknologi itu untuk membangun masyarakat, melalui pembangunan bidang energi baru terbarukan. Sustainable Development.
Kemudian di tahun 2018, saya mendapatkan undangan ke Curtin University, juga untuk mendapatkan Australia atau lebih pada Curtin University Alumni Awards juga di bidang Engineering gitu ya.
Jadi ini dukungan-dukungan dan sekaligus mengikuti, bertumbuh bersama dengan beasiswa Australia.
Raissa Almira:
Dan jadi semangat mas ya?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Semangat. Dan terakhir kemarin yang ulang tahun 70 tahun beasiswa Australia, saya juga mendapatkan undangan dari Australia Awards Indonesia. Kita bareng-bareng bersama 70 alumni yang lain difoto.
Raissa Almira:
70 alumni?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya, menjadi wajah-wajah alumni Australia dan itu akan terus disampaikan karena cita-cita dan cerita-cerita kerjasama Indonesia dan Australia itu sudah cukup panjang. Sejak 70 tahun yang lalu.
Raissa Almira:
Di berbagai bidang.
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Di berbagai bidang dan memang Indonesia benar-benar bersama dengan Australia untuk maju bersama, untuk merealisasikan pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya.
Raissa Almira:
Nah itu juga berkaitan dengan tema-tema yang kami keluarkan ya mas setiap tahunnya itu?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Iya. Benar, dan setiap bidang ada sekarang. Hampir apapun ada, dari pariwisata berkelanjutan, energi terbarukan, atau pun yang paling menarik dan bertumbuh saat-saat ini juga masih ditangkap.
Raissa Almira:
Jadi temen-temen juga harus pastikan kalau nulis esainya itu sesuai sama temanya ya mas?
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Bener, ya.
Raissa Almira:
Biar ada kaitannya. Begitu.
Nah itu semua pertanyaan dari saya hari ini. Terima kasih banyak Mas Agus, ternyata ga menakutkan ya tinggal di Australia, malah seneng banget terus juga keluarga mas juga senang disana, terakomodir dan lainnya juga.
Saya juga selama di Melbourne juga senang banget. Ga pernah sedih kayanya. Jadi temen-temen jangan takut untuk daftar, ini udah ada dua orang nih yang testimoni ya, promosi oke banget tinggal di Australia ya mas ya.
Sebelum berpisah, aku mau bilang semoga berhasil buat temen-temen semua, jangan lupa untuk baca setiap detail pendaftarannya di sini. Di sini juga ada semua perintilan dari berkas-berkas, ketentuan, pokoknya semuanya ada disini dan kalau temen-temen ada pertanyaan, bisa banget langsung ke WhatsApp-nya AAI juga, di sini juga ada dan juga ada form untuk nanya-nanya pertanyaan. Jadi semuanya ada disini, cek aja.
Oke, satu hal lagi temen-temen, ada kabar baik untuk kalian karena kita akan bagi-bagi souvenir bagi lima orang pemenang. Caranya gimana? Gampang banget.
Temen-temen hanya harus membagikan link YouTube ini via media sosial seperti X ataupun Instagram Story ataupun Post dan jangan lupa untuk tandai Kedubes Australia. Dan juga jangan lupa untuk screenshot buktinya dan masukin ke link di bawah ini. Nanti kita akan pilih pemenangnya siapa dan akan umumkan kemudian.
Jadi, jangan lupa dan terima kasih sudah menonton!
Dr Ahmad Agus Setiawan:
Semoga berhasil!
*outro*