OzAlum Podcast
Do you ever wonder how Australian alumni have gone on to achieve success after studying in Australia? Now you have the chance to find out as our alumni share unique stories about their experiences, knowledge and networks gained while in Australia that have helped them most in their journeys and key intersections of opportunity and alumni connections that have propelled them to where they are today. We have some talented alumni guest hosts lining up for exclusive interviews with our guests. Listen in our OzAlum podcast find out how these inspiring alumni let their lives speak and the unexpected twists and tale of life at each intersection along the way.
OzAlum Podcast
Eps #28 Akses untuk Semua: Bagaimana Beasiswa Australia Awards Memperluas Kesempatan bagi Semua
Use Left/Right to seek, Home/End to jump to start or end. Hold shift to jump forward or backward.
Bagaimana beasiswa dapat membuka peluang yang lebih setara bagi semua orang? 🌏✨
Dalam episode OzAlum podcast kali ini, host Fitrah Ningsih berbincang dengan Lia Marpaung, GEDSI Adviser AAI, Dr. Agustian Sutrisno, anggota Tim Seleksi Bersama Beasiswa (JST) Australia Awards, serta alumni Novi Indriastuti tentang bagaimana Beasiswa Australia Awards mewujudkan inklusi secara nyata.
Mereka membahas Kelompok Sasaran Pemerataan, proses seleksi yang inklusif, serta dukungan bagi penerima beasiswa dengan disabilitas selama menjalani studi.
Tak hanya itu, perbincangan juga mengulas bagaimana komitmen terhadap inklusi terus berlanjut setelah masa studi, termasuk melalui keterlibatan alumni dan Jaringan GEDSI Alumni Australia. 🌱
🎧 Simak episode selengkapnya untuk mengetahui bagaimana Beasiswa Australia Awards memperluas akses dan membuka peluang bagi masyarakat dari berbagai latar belakang
*woosh*
Fitrah Ningsih: Apa sebenarnya yang membuat Beasiswa Australia Awards ini berbeda dalam hal inklusivitas dibandingkan dengan beasiswa luar negeri lainnya?
*woosh*
Lia Marpaung: Kami menggunakan dan menerapkan pendekatan berbasis GEDSI yang berkeadilan secara substantif.
*woosh*
Dr. Agustian Sutrisno: Yang pertama adalah aspek akademik. Kemudian, bagaimana orang tersebut bisa menjadi agen perubahan. Dan yang terakhir, bagaimana dampak yang dibawa untuk pembangunan Indonesia.
*woosh*
Novi Indriastuti: Sebagai seorang penerima beasiswa dengan disabilitas, saya bisa benar-benar fokus belajar, fokus membangun koneksi, dan membangun pengalaman itu, Mbak.
*intro*
Fitrah Ningsih: Halo OzListeners, selamat datang di OzAlum Podcast tentang Australia, Beasiswa Australia Awards dan para penerima beasiswa serta para alumninya yang inspiratif, bersama saya Fitrah Ningsih, yang akan menjadi pembawa acara podcast kali ini.
Saat ini, saya menggunakan baju batik berwarna putih biru, rambut saya panjang sedang diikat dan tinggi saya 160 cm. Saya berasal dari Indonesia Timur, tepatnya Ternate, Maluku Utara. Pernah tidak sih teman-teman bertanya, apakah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan global?
Nah, untuk teman-teman yang ingin mengenal lebih dalam tentang Beasiswa Australia Awards, khususnya dari sisi inklusivitas, episode kali ini sangat tepat untuk kamu. Di episode kali ini kita akan membahas bagaimana Beasiswa Australia Awards merancang program beasiswa yang inklusif secara menyeluruh. Mulai dari proses pendaftaran, perjalanan sebagai pelajar setelah dinyatakan lulus, hingga peran sebagai alumni setelah menyelesaikan studi.
Oke, pada episode kali ini kita menghadirkan tiga narasumber sekaligus. Yang pertama, saya ingin langsung menyapa Mbak Lia Marpaung selaku Gender Equality, Disability and Social Inclusion, GEDSI Advisor di Australia Awards in Indonesia.
Lia Marpaung: Selamat pagi.
Fitrah Ningsih: Selamat pagi mbak, apa kabar?
Lia Marpaung: Baik.
Fitrah Ningsih: Kemudian ada Pak Agus sebagai perwakilan Joint Selection Team PhD dan Masters Australia Awards in Indonesia. Tidak hanya itu, Pak Agus juga merupakan dosen di Universitas Katolik Atma Jaya, Konsultan KONEKSI dan INOVASI program DFAT, serta alumni Australian Development Scholarship di UNSW dan Endeavour Scholarship di QUT dan University of the Sunshine Coast. Apa kabar, Pak?
Dr. Agustian Sutrisno: Kabar baik.
Fitrah Ningsih: Dan selanjutnya, juga hadir Mbak Novi Indriastuti, Alumni Masters of Education. Inclusive and Special Needs Education, Murdoch University. Saat ini Mbak Novi juga merupakan pengajar Bahasa Inggris. Apa kabar, Mbak Novi?
Novi Indriastuti: Alhamdulillah, kabar baik Mbak Fitrah.
Fitrah Ningsih: Alhamdulillah, senang sekali kita akan berdiskusi hari ini dan saya juga akan mendengarkan cerita inspiratif dari ketiga narasumber kita. Kalau begitu, saya langsung mulai saja untuk membuka diskusi kita. Saya ingin mengajak Mbak Lia untuk berbagi pandangan terkait mengapa inklusivitas dalam pendidikan dan program beasiswa, seperti Australia Awards, menjadi semakin penting untuk dibahas saat ini.
Lia Marpaung: Oke, terima kasih, Mbak Fitrah. Mengapa penting? Pertama dan terutama karena masih ada yang namanya kesenjangan. Ya, bahkan kesenjangan itu semakin melebar. Kesenjangan dari sisi sosial, ekonomi, dan juga dari sisi pendidikan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan itu adalah fondasi utama untuk memastikan kita mencapai masyarakat yang modern, maju, dan setara. Saya teringat ada satu kutipan, "Tidak ada yang namanya inklusi tanpa pendidikan" atau "No inclusion without education". Jadi ini artinya, partisipasi penuh dari setiap individu hanya bisa terwujud jika mereka memiliki akses yang sama, terutama dalam hal pendidikan.
Jadi, pendidikan itu adalah hak semua warga negara. Kemudian, program beasiswa seperti Australia Awards, yang merupakan kerja sama bilateral antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia, diharapkan tidak lagi hanya sekadar mencari talenta akademis terbaik, begitu ya, Pak Agus. Tetapi juga fokus pada bagaimana dapat mencetak pemimpin masa depan dan agen perubahan dari berbagai latar belakang.
Termasuk bagaimana bisa mencetak, membuat, mengadakan pemimpin baru Indonesia dari kelompok marginal, dari perempuan dan juga dari kelompok penyandang disabilitas. Saya sebagai seorang praktisi GEDSI, menurut saya, kalau tidak ada perwakilan dari perempuan, kelompok disabilitas, maupun kelompok marginal lain, Indonesia itu belum mencapai inklusivitas.
Kemudian juga untuk program beasiswa seperti Australia Awards. kami diikat oleh jangkar, kami punya jangkar pengikat, yaitu GEDSI Strategy, Gender Equality, Disability, dan Social Inclusion.
Jadi, strategi GEDSI kami ini menegaskan bahwa program beasiswa kami harus inklusif dan setara. Memastikan agar yang bisa mengakses beasiswa dan pendidikan tinggi itu bukan hanya kelompok tertentu, melainkan juga orang-orang di luar sana. Kira-kira seperti itu.
Fitrah Ningsih: Oke, jadi semua harus masuk ke dalam situ, ya. Baik, terima kasih, Mbak Lia, atas penjelasannya mengenai inklusivitas dalam pendidikan global. Menarik sekali, ya. Tadi kita sudah melihat gambaran besarnya. Sekarang saya mau lebih konkret nih, Mbak Lia, terkait dengan program Beasiswa Australia Awards ini.
Apa sebenarnya yang membuat Beasiswa Australia Awards ini berbeda dalam hal inklusivitas dibandingkan dengan beasiswa luar negeri lainnya? Karena kita tahu banyak ya beasiswa lainnya. Apa yang membuat Australia Awards berbeda dari beasiswa lainnya?
Lia Marpaung: Saya yakin Pak Agus dan Mbak Novi itu yakin ya, kita berbeda.
Fitrah Ningsih: Saya juga yakin bu.
Lia Marpaung: Percaya diri kita berbeda, begitu ya. Saya tidak mau dibilang terlalu subjektif. Nanti tinggal ditambahkan ya, Pak Agus dan juga Mbak Novi, dari pengalaman masing-masing. Saya sebagai alumni Beasiswa Australia Awards juga memiliki pengalaman pribadi.
Walaupun, sekarang juga bekerja di AAI, tapi menurut saya yang berbeda dari program Beasiswa Australia Awards dibandingkan dengan program beasiswa lain karena kami menggunakan dan menerapkan pendekatan berbasis GEDSI yang berkeadilan secara substantif. Bukan hanya sebagai kesetaraan yang sifatnya formal belaka.
Kami mengupayakan agar teman-teman pelamar, terutama dari kelompok marginal, tidak hanya diberikan kuota. Ada kuota untuk mereka, tetapi bukan hanya kuota, ada ekosistem pendukung yang kami ciptakan juga di sini. Dan itu selalu kami evaluasi seberapa efektif berjalannya ekosistem ini.
Contohnya, ini sudah kami desain mulai dari saat mereka melamar. Jadi, bahkan sebelum mereka masuk. Baru melamar, baru tahapan seleksi, baru bertemu dengan Pak Agus sebagai JST, sampai nanti sudah kembali menjadi alumni seperti Mbak Fitrah sendiri dan Mbak Novi, itu sudah bisa dirasakan.
Fitrah Ningsih: Itu dipikirkan semuanya, ya.
Lia Marpaung: Iya. Sebagai contoh, untuk pelamar dari kelompok target sasaran, kami melakukan sejumlah penyesuaian dan kebijakan afirmatif terkait IPK serta nilai IELTS-nya. Selain itu, ada akomodasi yang layak dan dukungan aksesibilitas yang diberikan, terutama untuk teman-teman penyandang disabilitas agar mereka bisa berpartisipasi penuh. Lalu, kami juga memiliki program ELTA, English Language Training Assistance.
Fitrah Ningsih: Saya tau program itu.
Lia Marpaung: Kalau program beasiswa lain, jika nilai IELTS tidak memenuhi syarat, tidak bisa masuk, begitu ya? Kalau program ELTA dalam Beasiswa Australia Awards itu bagaikan program menjemput bola. Jadi, nilai IELTS mereka mungkin masih di bawah standar untuk masuk beasiswa, tetapi mereka diberikan pelatihan bahasa Inggris secara intensif, dan itu bisa sampai 12 bulan.
Fitrah Ningsih: Dan modal itu bisa kita pakai mendaftar Beasiswa Australia Awards?
Lia Marpaung: Iya. Namun, program ELTA memang terutama ditujukan untuk teman-teman penyandang disabilitas dan mereka yang berasal dari 15 provinsi target sasaran.
Lalu, program beasiswa lain mewajibkan pelamar untuk sudah diterima di universitas yang dituju, harus ada letter of acceptance. Namun, di program kami tidak diwajibkan. Jadi, diterima dulu beasiswanya, nanti kami yang akan membantu berkoordinasi dengan pihak universitas di sana.
Selain itu, yang menurut saya berbeda—dan ini saya rasakan juga manfaatnya ketika menjadi pelajar, nanti Novi bisa menambahkan juga ya—ada pembekalan dan persiapan sebelum berangkat ke Australia yang namanya Pre-Departure Training. Di sana, kita tidak hanya diberikan penguatan bahasa Inggris, terutama dari sisi penulisan akademis. Ya, karena menulis di media sosial dengan menulis sebagai pelajar itu kan berbeda, begitu ya.
Fitrah Ningsih: Itu salah satu kelemahan saya, tuh. Untung ada AAS.
Lia Marpaung: Itu diberikan pelatihan secara khusus dan intensif seperti jam kantor, dari pagi sampai sore untuk menulis akademis tadi. Namun, bukan hanya untuk menulis akademis saja begitu, ya. Penguatan agensi diri kita juga diberikan pada tahapan tersebut.
Jadi, ada pembekalan terkait GEDSI agar penerima Beasiswa Australia Awards nantinya bisa berkontribusi untuk membangun Indonesia yang inklusif. Lalu, diberikan juga pembekalan terkait kesehatan mental. Sekolah di Australia, meskipun dua atau empat tahun, mungkin terasa sebentar. Namun, bagaimana kita menjaga kesehatan mental kita, itu juga diberikan di dalam sesi tersebut. Termasuk untuk memastikan kita saling menjaga dari segala bentuk kekerasan dan sebagainya, itu juga diberikan.
Selain itu, ada pelatihan-pelatihan terkait untuk berjejaring. Jejaring untuk penerima Beasiswa Australia Awards sudah dimulai dari hari pertama ketika mereka mengikuti Pre-Departure Training. Bahkan, kalau kata Pak Agus dan teman-teman, dari sejak seleksi dulu.
Dr. Agustian Sutrisno: Iya, betul.
Fitrah Ningsih: Mau menambahkan sedikit mungkin, Pak Agus?
Dr. Agustian Sutrisno: Oh iya. Jadi, ketika kandidat duduk bersama menanti wawancaranya, sebetulnya kami sudah mendorong para kandidat untuk memiliki jejaring. Karena mereka mungkin akan belajar di kampus yang sama atau berasal dari bidang studi yang sama. Jadi, ada banyak hal yang bisa diperbincangkan dan membangun jejaring sejak proses seleksi.
Lia Marpaung: Itu penting sekali, berjejaring. Itu sudah diberikan pembekalan bahkan pada saat tahapan wawancara. Jadi, itu yang menurut saya unik dan berbeda dari program Beasiswa Australia.
Fitrah Ningsih: Dari cerita dan jawaban Mbak Lia, saya jadi teringat masa lalu dan rasanya ingin mendaftar Beasiswa Australia Awards lagi. Mungkin saya mau bertanya sedikit karena tadi sempat disebutkan tentang Equity Target Group.
Sudah dijelaskan sedikit konsepnya, seperti perempuan, penyandang disabilitas, dan wilayah tertinggal ini menjadi prioritas. Mungkin bisa disampaikan lagi, sebenarnya kenapa sih, Bu? Misalkan saya dari wilayah timur, saya merasa sangat terbantu dengan Beasiswa Australia Awards ini. Kenapa bisa begitu?
Lia Marpaung: Oke, terima kasih. Jadi, Equity Target Group atau kelompok target sasaran itu adalah pilar utama di dalam strategi GEDSI kami. Program ini dirancang untuk mengidentifikasi dan memberikan dukungan afirmatif kepada kelompok-kelompok masyarakat di dalam negeri kita ini yang secara historis dan bertahun-tahun cenderung terabaikan atau mengalami berbagai hambatan untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Jangankan program beasiswa.
Nah, siapa mereka? Kami menggunakan pendekatan interseksionalitas, bahwa ada kelompok-kelompok tertentu yang memiliki hambatan berlapis. Berdasarkan diskusi dan konsultasi dengan berbagai pihak, termasuk para alumni kita, ketika seorang perempuan disabilitas berasal dari Indonesia Timur, ia memiliki hambatan yang jauh lebih berlapis dibandingkan mungkin perempuan yang dari Jawa, misalnya.
Oleh karena itu, Equity Target Group ini kita bangun dan rancang untuk memberikan keadilan akses bagi perempuan, penyandang disabilitas, dan mereka yang berasal dari 15 provinsi target sasaran. Kenapa 15 provinsi? Karena berdasarkan Human Development Index Indonesia, jumlah populasi penduduk yang memiliki pendidikan tinggi di 15 provinsi ini masih jauh lebih rendah dibandingkan provinsi lainnya.
Sebagai contoh, dengan adanya kuota untuk ETG ini, mereka bisa mengejar ketertinggalan dari kelompok non-ETG, sehingga mereka bisa ikut dalam proses seleksi secara berdaya juga. Contoh lainnya, misalnya tadi kita berkali-kali menyebutkan penyandang disabilitas—nanti Novi juga bisa menambahkan pernyataan saya, ya.
Teman-teman penyandang disabilitas di Indonesia dan di banyak negara menghadapi yang namanya diskriminasi institusional. Banyak lembaga pendidikan, sekolah, bahkan universitas yang infrastrukturnya belum ramah, termasuk sistem tes seleksinya, ya Pak Agus, terhadap teman-teman disabilitas dikarenakan infrastruktur yang belum mendukung ini. Sering kali, mereka tidak bisa bersaing dengan yang nondisabilitas.
Lalu, teman-teman penyandang disabilitas juga memiliki kendala hambatan biaya tinggi. Biaya hidup mereka jauh lebih tinggi dari kita. Seperti untuk transportasi, kita bisa menggunakan segala jenis transportasi publik, tetapi misalnya untuk Novi, tidak bisa. Lalu, banyak teman-teman penyandang disabilitas juga membutuhkan alat bantu atau assistive device seperti tongkat, kursi roda, atau alat bantu pendengaran yang tidak kita perlukan, dan semua itu tentunya tidak murah.
Nah, jadi program Beasiswa Australia Awards melalui dukungan untuk Disability Inclusive Support bertujuan meruntuhkan sekat finansial dan juga sekat-sekat fisik, seperti itu. Agar bisa mengeliminasi dan mengurangi hambatan sehingga mereka bisa berpartisipasi secara penuh.
Tadi kita juga menyebutkan perempuan dari kategori rentan. Kita mengetahui bahwa banyak perempuan di Indonesia mengalami ketimpangan struktural. Ada bias budaya. Saya ini dari generasi X yang dulu ibu saya pernah bilang, “Kenapa sih harus sekolah tinggi-tinggi, nanti tidak ada yang mau.”
Fitrah Ningsih: Saya juga masih mengalami itu kok.
Lia Marpaung: Lalu ada uang sedikit di keluarga, yang diutamakan yang laki-laki. Karena nanti perempuan ikut suami, nanti perempuan di dapur.
Fitrah Ningsih: Jadi itu masih terjadi, lo. Masih banget.
Lia Marpaung: Masih banget, begitu ya. Nah, kami percaya bahwa dengan kita berkontribusi untuk mengedukasi perempuan, ketika perempuan diberikan akses pendidikan tinggi, dia bukan hanya memajukan individu si perempuan atau agensinya, melainkan juga memajukan keluarganya, bahkan masyarakatnya.
Jadi, bagaimana program ini diharapkan juga bisa berkontribusi untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi tadi. Dan ini sudah berkali-kali terbukti dari berbagai testimoni alumni-alumni yang saya temui. Perempuan dari Maluku maupun dari Papua, mereka memberikan kesaksian bagaimana sekembalinya mereka dari sekolah di Australia setelah mendapatkan beasiswa, tidak hanya mereka saja yang maju, tetapi bahkan keluarga dan masyarakat mereka. Itu menurut saya alasan mengapa penting ada pemetaan dan tindakan afirmatif untuk kelompok target sasaran ini.
Fitrah Ningsih: Terima kasih Mbak Lia, ini bagi saya berarti sekali, ya. Jadi, saya juga merasa bangga berasal dari salah satu Equity Target Group yang disebutkan tadi.
Nah, mungkin saya akan ke Pak Agus juga, nanti setelah itu baru ke Mbak Novi. Tadi sudah dijelaskan tentang Equity Target Group dan juga inklusivitas di Beasiswa Australia Awards ini. Nah, Pak Agus, saya mau tahu nih, bagaimana sebenarnya inklusivitas itu diterapkan dalam proses seleksi Beasiswa Australia Awards? Karena Pak Agus merupakan Joint Selection Team, nih, mungkin kita bisa belajar dan mencuri sedikit tipsnya agar bisa lolos.
Dr. Agustian Sutrisno: Agar bisa lolos, ya. Ya, terima kasih untuk pertanyaannya.
Jadi, untuk melakukan seleksi Australia Awards, Joint Selection Team menerima pembekalan terlebih dahulu tentang konsep GEDSI dan konsep interseksionalitas seperti yang tadi Mbak Lia jelaskan, ya. Bagaimana pelamar-pelamar dari Equity Target Provinces, kemudian dari Equity Target Group, itu memiliki berbagai kerentanan dan kesulitan akses pendidikan lebih lanjut.
Kami menerima juga informasi mengenai berbagai jenis disabilitas dan bagaimana kami bisa memfasilitasi wawancara yang lebih baik untuk para pelamar yang memiliki disabilitas berbeda.
Pada hari wawancara, ada tim dari Beasiswa Australia Awards—misalnya Mbak Lia ini—yang akan memastikan bahwa ruang wawancara dapat diakses oleh peserta dengan berbagai macam kebutuhannya. Kami, ketika melakukan wawancara, juga berusaha selalu memastikan bahwa wawancara ini bersifat inklusif. Bahasa yang kami gunakan tidak mengandung bias tertentu misalnya, ya, maupun kami juga berusaha meminimalkan bias yang tidak disadari oleh kami.
Jika kami menghadapi orang dari latar belakang yang begitu berbeda dengan kami dan memiliki disabilitas tertentu, kami selalu berusaha memastikan bahwa situasi wawancara kondusif, sehingga mereka dapat mengartikulasikan ide-ide mereka dengan jelas dan kami juga bisa memahami apa yang ingin mereka lakukan.
Fitrah Ningsih: Jadi bahkan dari bahasa pun dipikirkan ya. Kalau misalkan saya gugup dan tidak bisa menjawab itu bagaimana, Pak?
Dr. Agustian Sutrisno: Iya, jadi bukan hanya Mbak Fitrah.
Lia Marpaung: Ada juga yang menangis.
Fitrah Ningsih: Ada yang menangis itu?
Dr. Agustian Sutrisno: Banyak yang menangis. Bukan hanya Mbak Fitrah, saya juga ketika diwawancara dulu gugup. Itu suatu hal yang normal. Tetapi kami berusaha untuk memastikan bahwa wawancara itu bukan dalam rangka menyerang individu tertentu. Sama sekali tidak. Kami berusaha memahami dan menggali.
Bagaimana jika peserta itu gugup? Nah, Mbak Lia ini sudah melihat apa yang kami lakukan di Bali misalnya, ya, dalam rangka melepaskan ketegangan. Dan bagi para pemirsa yang ingin tahu, ya datanglah dan ikutilah proses seleksi Beasiswa Australia Awards supaya bisa melihat bagaimana kami berusaha meredakan ketegangan.
Fitrah Ningsih: Dan bisa merasakan sendiri.
Dr. Agustian Sutrisno: Dan bisa merasakan sendiri, karena kami juga pernah diwawancara, jadi kami mengerti bagaimana keadaannya.
Fitrah Ningsih: Itu tidak memengaruhi nilai, kan? Biasanya ada nilai atau poin yang diberikan kepada kandidatnya. Tidak memengaruhi walaupun kita gugup? Lalu mungkin di awal-awal aku belum bisa menjawab, padahal kita sudah menulis esai sebenarnya, jawabannya kan ada di esai kita.
Dr. Agustian Sutrisno: Betul sekali. Nah, penilaian Beasiswa Australia Awards itu sifatnya komprehensif. Jadi, bukan hanya sekadar melihat orang itu gugup atau tidak gugup. Itu bisa jadi satu indikator, tetapi sebetulnya orang itu datang sebagai individu dengan segala potensinya.
Yang ingin kami kenali adalah potensi orang ini: bagaimana dia bisa menjadi agen perubahan yang dibutuhkan Indonesia serta dampak-dampak besar yang bisa dilakukan sekembalinya nanti dari Australia. Seperti yang tadi Mbak Lia juga katakan dan Fitrah alami sendiri, bagaimana bisa mendatangkan perubahan. Jadi, apakah orang itu gugup atau tidak, semua peserta itu sebetulnya dalam tahap gugup. Kami sangat memahami itu, nilai tidak dikurangi hanya karena orang itu gugup, begitu.
Fitrah Ningsih: Setuju, jadi jangan berkecil hati, ya. Walaupun di awal-awal agak gugup, nanti akan mulai mengalir karena dibantu juga, ya, untuk menenangkan mereka.
Nah, saya masih mau ke ETG tadi, ya, Pak. Sebenarnya apa saja aspek akademik dan juga nonakademik yang dinilai dalam seleksi, khusus untuk Equity Target Group ini?
Dr. Agustian Sutrisno: Jadi sebetulnya, penilaian untuk semua pendaftar Beasiswa Australia Awards itu sama. Ada tiga hal yang kami lihat: yang pertama aspek akademik, kemudian bagaimana orang tersebut dapat menjadi agen perubahan, dan yang terakhir bagaimana dampak-dampak yang dibawa untuk pembangunan Indonesia serta hubungan bilateral antara Indonesia dengan Australia.
Saya akan mulai dengan aspek akademik dulu ya. Dalam aspek akademik, ketika kami melihat satu individu pelamar, yang ingin kami lihat adalah apakah orang ini dapat belajar di Australia dengan berhasil. Kami tidak ingin melihat orang-orang ini gagal, jadi kami ingin melihat orang ini memiliki kesiapan secara akademik, pemahaman lintas budaya begitu, dan bahasa Inggris untuk nanti bisa berhasil studi di Australia. Untuk kandidat yang berasal dari 15 provinsi yang merupakan target Beasiswa Australia Awards, ada jalur ELTA. Dalam jalur ELTA ini, wawancara bisa dilakukan dalam bahasa Indonesia.
Fitrah Ningsih: Oh wow, saya baru tahu terkait hal ini.
Dr. Agustian Sutrisno: Iya bisa dilakukan dalam Bahasa Indonesia.
Fitrah Ningsih: Harusnya saya pakai Bahasa Indonesia dulu.
Dr. Agustian Sutrisno: Kemudian dari sudut pandang agen perubahan, setiap kandidat Beasiswa Australia Awards harus bisa menunjukkan potensi mereka dan juga pengalaman mereka mendatangkan perubahan.
Perubahan ini tidak perlu merupakan perubahan yang besar skala nasional, tidak perlu misalnya, “Oh, saya telah memperkenalkan satu undang-undang baru,” itu terlalu besar. Namun bagaimana mendatangkan misalnya kebijakan-kebijakan yang lebih ramah terhadap kebutuhan anak atau kebutuhan perempuan di desanya atau di unit kerjanya, apa yang telah dia lakukan untuk mendatangkan satu perubahan. Itu sudah merupakan contoh dari agen perubahan.
Beasiswa Australia Awards melalui program beasiswanya sepanjang studi Master atau PhD di Australia, tentu akan membangun orang ini lebih lanjut, sehingga nanti kembali ke Indonesia dapat melakukan perubahan-perubahan yang telah direncanakan. Dan itu aspek yang ketiga sebetulnya: apa saja perubahan atau dampak baik yang orang ini bisa bawa ke Indonesia nanti.
Dalam prakteknya, ketika kami melihat individu dari ETG itu, kami menilai tiga hal ini sama dengan semua kandidat yang lain. Namun kami memahami ada isu interseksionalitas dan kesempatan relatif, kesempatan-kesempatan yang mungkin berbeda bentuknya daripada yang saya alami sebagai orang yang tinggal di Jakarta. Dan untuk orang-orang seperti itu dari ETG, kami bisa memberikan nilai ekstra setelah kami yakin bahwa orang ini memang bisa belajar di Australia, telah menunjukkan kualitas sebagai seorang agen perubahan, dan dampak-dampak yang mungkin dia bisa bawa nantinya bagi pembangunan Indonesia.
Fitrah Ningsih: Oke. Ini nyambung sekali dengan cerita saya, karena saya juga dari Indonesia Timur. Waktu itu saya hanya mengajar anak-anak pulau, mengajarkan bahasa Inggris, ternyata itu bisa menjadi salah satu nilai jual ya.
Dr. Agustian Sutrisno: Oh tentu saja bisa. karena sudah menghasilkan suatu perubahan dan membawa dampak langsung bagi masyarakat setempat.
Fitrah Ningsih: Karena kadang kita suka malu, maunya ngelakuin hal yang besar. Ternyata dari hal-hal yang kecil pun dinilai oleh Beasiswa Australia Awards.
Dr. Agustian Sutrisno: Tidak, dimulai dari yang kecil dulu.
Fitrah Ningsih: Oke Pak, sebelum saya ke Mbak Novi, ada salah satu hal lagi yang tadi juga sudah disebut oleh Mbak Lia terkait dengan latar belakang sosial ekonomi. Nah, bagaimana latar belakang sosial ekonomi ini bisa memengaruhi penilaian dalam seleksi beasiswa?
Dr. Agustian Sutrisno: Jadi Beasiswa Australia Awards itu pertama-tama adalah merit based scholarship. Jadi orang itu harus memiliki keunggulan ya, apa saja keunggulan yang dimiliki oleh orang tersebut. Pada dasarnya kemampuan finansial itu bukan merupakan hal yang kami lihat, tetapi kami juga memahami ada misalnya perempuan dari latar belakang yang rentan, kelompok marjinal, atau misalnya orang tua tunggal, Ibu yang harus bekerja dan juga sekaligus membesarkan anak-anaknya.
Kami menilai itu sebagai bagian dari Equity Target Group tadi, sehingga bisa diberikan nilai ekstra kalau orang tersebut memang memenuhi tiga aspek yang kami nilai tadi, yaitu kemampuan akademik, agen perubahan, serta dampak yang bisa diperkenalkan bagi Indonesia.
Fitrah Ningsih: Oke, memang sangat luar biasa sekali, ya, Pak, beasiswa ini. Nah, mungkin saya mau ke Mbak Novi. Kita akan periksa dengan Mbak Novi, apakah semua yang disampaikan oleh Mbak Lia dan juga Pak Agus ini benar dirasakan oleh alumni penerima Beasiswa Australia Awards.
Tidak hanya proses seleksinya, proses inklusivitas juga diterapkan dalam tahap mobilisasi penerima beasiswa dari Indonesia ke Australia nih, Mbak Novi. Nah, aku ingin tahu dong, setelah lulus seleksi beasiswa, bagaimana pengalaman pendekatan inklusif dalam tahap persiapan keberangkatan atau mobilisasi berdampak dalam kehidupan scholar dan sekembalinya Mbak Novi di Indonesia? Mungkin bisa ceritakan pengalamannya.
Novi Indriastuti: Nah, kalau berbicara soal dampak dari dukungan-dukungan yang diberikan oleh Beasiswa Australia Awards, pastinya yang pertama ya, saya sebagai seorang penerima beasiswa dengan disabilitas itu bisa benar-benar fokus untuk belajar, fokus untuk membangun koneksi, dan membangun pengalaman.
Karena ya, seperti yang tadi sempat disebutkan sama Mbak Lia juga, untuk teman-teman disabilitas ini kan misalnya mau datang ke satu kelas atau ke satu kegiatan, mungkin kalau teman-teman yang lain itu bisa hanya mempertimbangkan seperti, “Oh, mau membahas tentang apa? Terus pembicaranya siapa saja? Yang mau hadir siapa saja?” Terus lokasi itu kan jadi sesuatu yang gampang ya buat mereka.
Sedangkan kalau untuk orang-orang seperti saya, dan mungkin teman-teman pengguna kursi roda dan lain-lain, pertimbangannya jauh lebih kompleks lagi. Karena saya juga memikirkan, “Sebentar, kalau menuju ke gedung itu dari tempat tinggal saya sekarang, kira-kira jalannya apakah aksesibel atau tidak? Apakah ada selokan yang terbuka atau tidak? Apakah ada misalkan jendela yang terbuka ke luar atau tidak?”
Karena hal-hal kecil ini yang mungkin bagi teman-teman yang awas, teman-teman yang bisa melihat, itu bisa langsung diketahui saat itu juga ketika mereka berangkat ke tempatnya. Tetapi kalau untuk orang-orang seperti saya ini kan perlu dicek dahulu untuk memastikan saya bisa datang ke lokasi dengan aman dan selamat.
Nah, dengan adanya dukungan—misalnya dengan diizinkan untuk membawa pendamping dan pendamping pun ikut didukung oleh tim Beasiswa Australia Awards—itu bisa mengurangilah energi yang terkuras untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Misalnya saya ingin ikut kelas, ingin ikut kegiatan di luar perkuliahan atau bahkan di luar kampus, hal-hal yang berkaitan dengan mobilitas sudah bisa dibantu oleh pendamping, yang mana kemarin saya pergi ke sana bersama Ibu.
Fitrah Ningsih: Dan itu dibantu oleh pihak Beasiswa Australia Awards?
Novi Indriastuti: Betul, dan sangat didorong. Bahkan dari sebelum berangkat ke Australia, sewaktu Pre-Departure Training juga sudah diperbolehkan dan didorong juga. Kalau memang membutuhkan pendamping, bisa mengajukan dan pendampingnya akan didukung.
Jadi sewaktu Pre-Departure Training pun saya membawa pendamping, sewaktu di Australia pun membawa pendamping. Opsi-opsi seperti ini selalu ada dan kalau memang bisa mempermudah, pasti akan difasilitasi, selama sesuai dengan kebutuhan. Bukan seperti, "Ah, saya inginnya sih begini." Kalau hanya berdasarkan keinginan mungkin tidak boleh sama Mbak Lia ya.
Fitrah Ningsih: Tidak boleh diada-adakan ya, harus sesuai.
Novi Indriastuti: Iya, tetapi jika sesuai kebutuhan, pastinya akan difasilitasi. Kalau setelah selesai kuliah, yang saya rasakan pastinya Alhamdulillah saya lulus bukan hanya membawa ijazah saja. Karena Alhamdulillah di luar perkuliahan pun saya jadi bisa ikut kegiatan-kegiatan. Dulunya saya berpikir jika kuliah lagi mungkin saya akan dapat ijazah lagi saja.
Namun ternyata dengan dukungan ekstra yang diberikan oleh AAS dan kampus, akhirnya kesempatan-kesempatan yang selama ini tidak saya bayangkan bisa saya dapatkan, itu tercapai. Jadi setelah lulus, saya ternyata mendapat kesempatan untuk ikut kegiatan di luar kampus dan luar perkuliahan yang pastinya bisa mendukung CV saya untuk mendaftar kerja dan lain-lainnya. Dan koneksi seperti teman-teman dari negara lain—yang kebetulan kalau di kampus saya awardee AAS-nya tidak sebanyak itu—koneksi di luar penerima beasiswa AAS pun Alhamdulillah banyak dan masih terjalin komunikasinya sampai sekarang. Dan itu tercapai berkat saya bisa ikut kegiatan-kegiatan di luar kampus tersebut.
Fitrah Ningsih: Dan ini pengalaman yang nyata ya yang langsung dirasakan oleh Mbak Novi. Benar ya berarti yang dikatakan oleh Pak Agus dan juga Mbak Lia. Oke, Mbak Novi, mau tahu dong untuk pelamar disabilitas ini bentuk akomodasi atau dukungan seperti apa sih yang disediakan oleh Beasiswa Australia Awards?
Novi Indriastuti: Terkait dengan akomodasi atau support yang diberikan oleh tim Beasiswa Australia Awards ini, yang pertama pastinya yang ingin saya bahas adalah berbasis kebutuhan masing-masing individu. Jadi walaupun mungkin punya kondisi disabilitas yang sama, spektrumnya luas sekali, disabilitas itu sangat luas dan pilihan masing-masing individu juga bisa jadi berbeda. Jadi semuanya berangkat dari kami dulu sebagai penerima beasiswa dengan disabilitas yang menyampaikan ke tim Beasiswa Australia Awards melalui Disability Support Statement.
Kemudian sebelum Pre-Departure Training, kami biasanya akan berdiskusi dengan Mbak Lia dulu terkait apa saja yang kami butuhkan dan apa saja yang bisa difasilitasi selama Pre-Departure Training untuk dikomunikasikan dengan tim penyelenggaranya di Bali, seperti itu Mbak Fitrah. Setelah selesai dari Pre-Departure Training, ada diskusi lanjutan juga dengan konsultan disabilitas dari DFAT (Department of Foreign Affairs and Trade) langsung, untuk membahas tentang studi kita saat di Australia nanti di kampus masing-masing. Di situ nanti akan dibahas dukungan-dukungan yang kami ajukan lagi, apa saja dan apa yang bisa disetujui oleh tim AAS.
Setelah diskusi itu, biasanya hasilnya nanti akan disampaikan ke kampus, karena yang akan memfasilitasi—misalnya perlu alat-alat khusus atau yang lainnya untuk diberikan ke masing-masing mahasiswa—adalah kampusnya sendiri. Dan tidak hanya diskusi-diskusi itu, sebelum berangkat juga biasanya seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ada diskusi dengan konsultan disabilitas dari kampus kami masing-masing untuk membahas tentang access plan atau equal plan (atau apa pun namanya di kampus, mungkin berbeda-beda).
Tujuannya agar kami dengan dosen nantinya sudah ada alat yang bisa digunakan untuk sama-sama mengetahui kebutuhan mahasiswanya dan dosen pun bisa memfasilitasi serta mempersiapkan diri sebelum mulai mengajar.
Fitrah Ningsih: Oke, terima kasih Mbak Novi.
Lia Marpaung: Mungkin jika saya boleh tambahkan, Mbak Fitrah, jadi tadi Novi sudah sampaikan bahwa untuk teman-teman penyandang disabilitas, dukungan diberikan melalui penilaian personal. Jadi, kita tidak menggeneralisasi seperti, “Oh, kalau kondisi disabilitas seperti ini, misalnya disabilitas netra, semuanya pasti butuh yang sama.” Tidak. Itu sangat personal, sangat unik, karena setiap orang punya kebutuhan dan juga kondisi yang berbeda-beda.
Nah, dukungan yang diberikan oleh Beasiswa Australia Awards bukan hanya dimulai pada saat mengikuti Pre-Departure. Bahkan pada saat baru akan melamar, baru tahapan seleksi, baru akan interview dan bertemu dengan Pak Agus—tadi Pak Agus sudah cerita terkait hal itu, ya—dan mengikuti tes IELTS di awal, itu sudah ada identifikasi bersama.
Jadi, untuk wawancara dengan Pak Agus dan teman-teman, kira-kira kebutuhan aksesibilitasnya apa. Mungkin butuh ruang wawancara yang aksesibel. Mungkin sebelum masuk ke ruangannya Pak Agus, perlu ada di ruang tenang dulu—itu biasanya teman-teman disabilitas psikososial membutuhkan itu. Mungkin mereka butuh ada mikrofon khusus karena misalnya memiliki hambatan untuk berbicara.
Lalu nanti ketika mengikuti Pre-Departure Training, apa hambatannya, apa yang bisa kita dukung, itu sudah kita sampaikan dan kita diskusikan juga. Jadi, mungkin dia butuh kursi roda, atau butuh alat-alat bantu yang lain, begitu ya.
Apalagi nanti ketika berada di Australia. Teman-teman di Indonesia itu banyak misalnya membawa kursi roda mereka yang manual. Namun, ketika di Australia, karena kondisi kampusnya misalnya berbukit-bukit, maka butuh alat bantu yang lebih disesuaikan.
Bahkan setelah menyelesaikan sekolah dan menjadi alumni—misalnya seperti Novi yang sudah menjadi alumni—kemudian ada banyak acara seperti acara Australian GEDSI Alumni Network, ada acara halalbihalal, ada networking, ada gala dinner, teman-teman itu juga sangat bisa berkomunikasi dengan kita untuk kehadiran mereka. Bahkan di acara seperti podcast seperti ini, misalnya, kebutuhan aksesibilitas apa yang dibutuhkan.
Itu nanti akan kita identifikasi bersama-sama, dan tentu dengan sumber daya yang kita miliki dan kita sesuaikan, itu bisa kita bantu untuk berikan. Tujuannya adalah memastikan partisipasi penuh dari penerima beasiswa.
Fitrah Ningsih: Terima kasih banyak Mbak Lia, semuanya memang dipikirkan ya dan memang kalau di Australia itu kampusnya sangat ramah disabilitas. Mungkin saya mau bertanya sedikit saja ke Mbak Novi, apakah ada komunikasi langsung dengan pihak kampus di sana sebelum para pelajar datang? Karena kan kita punya student contact officer ya.
Novi Indriastuti: Iya, betul sekali Mbak. Jadi setelah kita diterima di kampusnya, pihak Beasiswa Australia Awards menghubungi kampus, lalu dari student contact officer (istilahnya seperti wali penerima AAS di kampus) akan menghubungi mahasiswa disabilitas ini secara terpisah.
Waktu itu sebelum berangkat saya bahkan sudah menyusun ini. Kalau di kampus saya istilahnya equal plan, semacam access plan yang isinya keterangan mengenai disabilitas yang dialami mahasiswa dan kebutuhan-kebutuhan untuk perkuliahan. Jadi setelah saya datang ke sana dan mengikuti mata kuliah, saya bisa langsung membagikan dokumen ini ke dosen. Dosen sebelum memulai perkuliahan sudah tahu, "Oh, akan ada Novi. Novi ini kebutuhannya apa dan sistem perkuliahannya harus disesuaikan seperti apa." Misalnya butuh dokumen dengan format tertentu, materi perlu dikirim lebih awal, atau gambar-gambar perlu diberi deskripsi teks, itu bisa didukung oleh dosennya bahkan sebelum perkuliahan dimulai.
Fitrah Ningsih: Luar biasa ya. Sampai ke detail itu pun dipikirkan oleh Beasiswa Australia Awards.
Lia Marpaung: Saya punya informasi, cerita tambahan. Saya ingat waktu kuliah dulu, kelas kami pernah dibubarkan karena ternyata, kelas itu setiap subjek berbeda-beda ruang kelasnya. Ternyata ruang kelas untuk minggu itu tidak aksesibel untuk salah seorang teman yang menggunakan kursi roda. Jadi kelas dibubarkan, diganti ke hari berikutnya hanya untuk memastikan mahasiswa dengan pengguna kursi roda itu bisa menggunakan kelasnya.
Fitrah Ningsih: Sampai dibatalkan ya kelasnya, luar biasa sekali. Terima kasih Mbak Lia tambahan informasinya. Mungkin saya masih ke Mbak Novi dulu. Tadi kan sempat disebut juga tentang Pre-departure Training. PDT ini apa sih sebenarnya yang dibahas atau mungkin mendapatkan dukungan apa saja untuk mahasiswa dengan penyandang disabilitas?
Novi Indriastuti: Oke, kalau masalah PDT tadi sebenarnya Mbak Lia sudah menyebutkan.
Fitrah Ningsih: Berapa bulan dapatnya?
Novi Indriastuti: Saya kemarin kebetulan dapet 6 minggu. Sebenernya ingin lebih lama.
Fitrah Ningsih: Kalau saya sembilan bulan. Tidak tahu apakah masih ada yang sembilan bulan?
Dr. Agustian Sutrisno: Masih ada.
Novi Indriastuti: Ya. Untuk topik-topik yang dibahas, seperti yang sudah disebutkan Mbak Lia tadi, pertama pastinya persiapan bahasa Inggris untuk kepentingan akademik, untuk menulis dan presentasi dalam bahasa Inggris. Jadi bahasa Inggris jadi salah satu topik utama. Namun selain itu ada kelas literasi informasi dan kelas IT. Bagi teman-teman yang baru lulus mungkin masih hangat ingatannya, tetapi kan tidak semua penerima beasiswa baru lulus 1–2 tahun lalu. Ada yang sudah lulus 15 atau 20 tahun lalu.
Teknologinya sudah berubah dan cara kerjanya sudah berubah, sehingga dengan kelas literasi informasi dan IT ini kita jadi tahu, oh ternyata membuat sitasi dan referensi sekarang tidak perlu manual, ada alat otomatisnya tanpa harus dikerjakan satu per satu.
Lalu ada kelas cross-cultural studies yang membahas kebudayaan di Australia seperti apa, agar ketika kita datang ke sana culture shock-nya tidak terlalu parah, seperti itu, Mbak.
Fitrah Ningsih: Sudah diminimalisasi ya selama PDT itu?
Novi Indriastuti: Betul, karena sedikit-sedikit kita sudah tahu, walaupun tetap ada kagetnya tetapi tidak akan separah itu. Kemudian ada sesi membahas GEDSI yang waktu itu diisi oleh Mbak Lia, pengenalan prinsip GEDSI untuk semua mahasiswa. Mungkin sebagian mahasiswa ada yang sudah bergelut di bidang itu, tetapi kan belum semuanya.
Saya pribadi, walaupun latar belakang saya Pendidikan Inklusif, pembahasan tentang gender equity belum banyak saya dapatkan. Jadi saya belajar banyak waktu itu dari sesi Mbak Lia.
Dampak yang saya rasakan langsung saat Pre-Departure Training, teman-teman yang sebelumnya cerita ke saya mengaku awalnya khawatir dan ragu kalau mau bertanya atau mengobrol dengan teman-teman disabilitas karena takut tersinggung. Namun setelah diberi pemahaman, mereka paham ternyata tidak apa-apa, jadi bisa lebih berbaur dengan semuanya.
Lalu ada kelas First Nations yang menghadirkan saudara-saudara kita dari suku Aborigin dan Torres Strait Islander, karena kita tidak hanya akan menemui kebudayaan Barat di sana, tetapi juga kebudayaan First Nations, agar kita lebih bijak saat tiba di sana. Lalu ada pembahasan tentang penyetaraan ijazah juga, dan yang sangat penting adalah Info Day.
Fitrah Ningsih: Untuk di kampus itu ya?
Novi Indriastuti: Betul, menghadirkan representatif dari kampus-kampus. Lalu kita yang mungkin masih belum 100% yakin ingin ambil pilihan pertama, kedua, atau mungkin ada pilihan ketiga juga dari kampus yang kita ingin daftar, itu bisa langsung ngobrol dengan perwakilan dari kampusnya kira-kira mau keputusan akhirnya ambil kampus yang mana.
Fitrah Ningsih: Nah, OzListeners menarik sekali. Dukungan tidak hanya berhenti setelah kelulusan. Para alumni tetap mendapatkan berbagai manfaat dan juga kesempatan. Termasuk melalui keterlibatan dalam jejaring alumni GEDSI yang terus mendorong kolaborasi dan dampak berkelanjutan.
Mungkin masih ke Mbak Novi sebelum saya ke Mbak Lia, karena saya ingin tahu tentang Australian GEDSI Alumni Network. Mungkin Mbak Novi sudah mendaftar? Sudah menjadi bagian dari Australian GEDSI Alumni Network ini?
Novi Indriastuti: Iya. Jadi karena saya alumni baru juga, begitu lulus saya langsung mendaftar viai email. Jadi sekarang saya sudah menjadi bagian dari Australian GEDSI Alumni Network, walaupun memang masih baru, mbak.
Fitrah Ningsih: Oke, berarti kita ke Mbak Lia. Mungkin bisa dijelaskan Mbak tentang Australian GEDSI Alumni Network ini, apa saja yang akan kita dapatkan?
Lia Marpaung: Oke, jadi ini bagian dari upaya Beasiswa Australia Awards untuk menciptakan ekosistem pendukung tentang inklusivitas. Jadi bukan hanya pada waktu melamar dan mengikuti PDT ada sesi GEDSI. Dari sesi-sesi itu, banyak cerita menarik. Pernah ada penerima beasiswa yang mau kuliah Masters tentang serangga bilang, "Mbak, di subjek saya nanti tentang serangga tidak ada isu GEDSI-nya." Saya bilang, "Tunggu dulu, bahkan isu serangga pun ada aspek GEDSI-nya!"
Dari situ banyak teman-teman jadi tertarik. Ketika kami mendirikan Australian GEDSI Alumni Network di akhir tahun 2024, waktu itu anggotanya baru 20 orang, sekarang sudah 800 lebih. Australian GEDSI Alumni Network ini bukan hanya menjadi rumah bagi para praktisi yang peduli isu GEDSI untuk membagikan pengetahuan atau keahlian, tetapi juga menjadi rumah bagi mereka yang ingin belajar. Misalnya ada yang bekerja di isu perubahan iklim dan butuh membuat strategi GEDSI dalam isu tersebut, di sini mereka bisa bertemu dan berjejaring. Salah satu kekuatan alumni Australia Awards adalah jejaringnya. Mereka bisa saling belajar, saling berbagi informasi alat bantu disabilitas, dan kami pertemukan dengan para ahli—seperti alumni kita Richard Kennedy atau Novi.
Tadi Novi sempat menceritakan saat ikut acara Australian GEDSI Alumni Network, salah satu pembicaranya dari Perhimpunan Jiwa Sehat. Isu kesehatan mental mungkin di luar sana belum terbuka dibicarakan, tetapi di Beasiswa Australia Awards diskursus tersebut sangat terbuka dan ada alumni yang sangat ahli di bidang itu. Australian GEDSI Alumni Network ini menjadi rumah untuk tumbuh dan belajar bersama. Sudah 1,5 tahun jejaring ini berdiri dan rutin mengadakan diskusi setiap bulan. Bahkan nanti di akhir tahun kami akan mengadakan GEDSI Summit pertama di Indonesia yang diinisiasi oleh alumni Australia Awards, serta memulai GEDSI Mentorship. Bagi yang ingin belajar dari ahli GEDSI, berjejaring, atau mencari peluang kerja di bidang GEDSI yang sedang marak, ini bisa didapatkan dan merupakan hak istimewa menjadi keluarga besar Alumni Australia Awards.
Fitrah Ningsih: Wah, bahkan sampai dipikirkan rumah dan juga wadahnya ya. Kadang ketika pulang ke Indonesia, kita takut tidak bisa mendapatkan pekerjaan, ternyata itu juga bisa difasilitasi ya.
Lia Marpaung: Banget.
Fitrah Ningsih: Nah, sudah tidak terasa nih kita sudah mengobrol lama, tetapi saya masih ingin mengobrol lagi. Mungkin ini ada beberapa pertanyaan terakhir untuk ketiga narasumber kita. Ke Pak Agus dulu ya, untuk pendengar yang sedang mempertimbangkan mendaftar, pesan apa yang ingin Bapak sampaikan? Agar mereka lebih percaya diri untuk mendaftar.
Dr. Agustian Sutrisno: Yang pertama, daftarlah! Program beasiswa ini sifatnya inklusif, tidak ada pihak yang dieksklusikan. Saya kadang mendengar rumor bahwa kalau pelamar pria dan tinggal di Jawa sebaiknya jangan mendaftar Beasiswa Australia Awards, itu sama sekali tidak benar. Saya tinggal di Jawa dan saya pria, saya mendapat Beasiswa Australia Awards. Jadi percaya dirilah, tetapi bekali juga diri Anda. Jika saat ini belum punya pengalaman menjadi pembawa perubahan, kembangkanlah diri melalui kegiatan yang menunjukkan bahwa kita merupakan agen perubahan. Jangan terlalu banyak khawatir, ada podcast seperti ini sehingga bisa banyak belajar. Tadi saya juga sudah menceritakan proses seleksinya. Jadi, lamarlah, ambillah kesempatan ini karena terbuka bagi semua orang. Silakan mencoba dan kunjungi situs webnya.
Fitrah Ningsih: Terima kasih banyak Pak Agus. OzListeners, jangan lupa untuk mendaftar karena saya juga dulu sempat berpikir, berasal dari daerah kecil apakah akan lolos beasiswa ini? Ternyata lolos karena saya juga sudah membekali diri dan punya cerita sendiri. Kadang datang dari timur merasa sangat tertinggal.
Dr. Agustian Sutrisno: Sama sekali tidak. Bahkan cerita-cerita dari Indonesia Timur seringkali jauh lebih menyentuh dan sesuai dengan masalah-masalah yang ada di akar rumput.
Fitrah Ningsih: Oke, terima kasih Pak Agus. Selanjutnya saya ke Mbak Novi. Dari pengalaman yang sudah Mbak Novi ceritakan, apakah pendekatan inklusif ini dapat membentuk alumni menjadi agen perubahan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat di Indonesia? Karena tadi Pak Agus berkali-kali menyampaikan tentang agen perubahan. Mungkin ada sedikit pesan kepada OzListeners yang mau mendaftar Beasiswa Australia Awards?
Novi Indriastuti: Intinya untuk teman-teman OzListeners yang ingin mendaftar Beasiswa Australia Awards dan mungkin memiliki kondisi disabilitas atau kebutuhan tambahan yang berbeda dari pendaftar pada umumnya, pesan dari saya: daftar saja! Karena tim Beasiswa Australia Awards—Mbak Lia dan tim—akan mempertimbangkannya. Mengenai dampak untuk membentuk agen perubahan, jawabannya tentu iya. Seperti yang saya ceritakan, kesempatan selalu ada dan dukungan untuk meminimalkan hambatan sudah disediakan. Selama kita mau rajin belajar dan memperluas jaringan, insyaallah kesempatan menjadi agen perubahan setelah kembali ke Indonesia sangat terbuka.
Fitrah Ningsih: Kembali ke komitmen diri ya, semua orang punya kesempatan yang sama.
Novi Indriastuti: Betul.
Fitrah Ningsih: Selanjutnya OzListeners, mari kita dengarkan kata-kata penutup dari Mbak Lia.
Lia Marpaung: Apa ya penutupnya?
Fitrah Ningsih: Tentang inklusivitas dalam Beasiswa Australia Awards ini, dampak nyatanya.
Lia Marpaung: Program Beasiswa Australia Awards berupaya keras memastikan agar program ini inklusif dan setara untuk semua. Harapannya, semua yang terlibat—bukan hanya penerima beasiswa dan alumni, tetapi juga JST, mitra universitas, hingga penyelenggara Pre-Departure Training—terpapar dengan isu inklusivitas dan kesetaraan.
Seperti cerita Novi, tidak hanya teman-teman disabilitas yang belajar dengan dukungan penuh, tetapi mahasiswa non-ETG juga belajar bagaimana berperilaku inklusif. Tadi Pak Agus menyampaikan, bertutur kata pun harus inklusif. Harapannya, program ini memampukan kita semua di luar sana untuk menjadi agen perubahan yang benar-benar membawa Indonesia menuju Indonesia yang inklusif. Itu harapan saya dan harapan dari program ini.
Fitrah Ningsih: Terima kasih Mbak Lia, Pak Agus, dan Mbak Novi sudah berbagi cerita dengan kami. Wah OzListeners, sebuah pesan yang wajib diingat oleh kita semua. Aku yakin teman-teman yang ingin melanjutkan S2 dan S3 di Australia semakin bersemangat.
Karena sudah di penghujung acara, aku mengucapkan terima kasih banyak sekali lagi untuk para narasumber, semoga bermanfaat untuk para pendengar. Jangan lupa cek situs web Australia Awards in Indonesia serta media sosial Kedubes dan Konjen Australia di bawah ini karena banyak informasi beasiswa yang diperbarui di sana.
Selain itu, ada informasi menarik: Australia Awards in Indonesia akan membagikan suvenir untuk 5 orang yang membagikan podcast ini di media sosial. Teman-teman boleh membagikannya di X, unggahan Instagram, atau Instagram Story, lalu sebut (mention) Kedubes Australia dan gunakan tagar #OzAlumPodcast. Pemenang yang beruntung akan dihubungi oleh tim AAI. Jangan lupa untuk mengisi data diri di bawah ini juga. Baik kalau begitu, terima kasih dan sampai berjumpa di episode berikutnya.
*outro*