OzAlum Podcast
Do you ever wonder how Australian alumni have gone on to achieve success after studying in Australia? Now you have the chance to find out as our alumni share unique stories about their experiences, knowledge and networks gained while in Australia that have helped them most in their journeys and key intersections of opportunity and alumni connections that have propelled them to where they are today. We have some talented alumni guest hosts lining up for exclusive interviews with our guests. Listen in our OzAlum podcast find out how these inspiring alumni let their lives speak and the unexpected twists and tale of life at each intersection along the way.
OzAlum Podcast
Eps #29 Dari Australia ke Indonesia: Mengubah Pengetahuan Iklim Menjadi Aksi Nyata
Use Left/Right to seek, Home/End to jump to start or end. Hold shift to jump forward or backward.
🌱 Apa yang bisa kita pelajari dari studi perubahan iklim di Australia untuk mengatasi berbagai tantangan lingkungan di Indonesia?
Di Episode 29 #OzAlum Podcast, pewara Fitrah Ningsih berbincang dengan alumni Australia Awards, Saraswati Siahaan, tentang pengalamannya menempuh studi Magister Perubahan Iklim di ANU dan bagaimana pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya dalam menghadapi berbagai tantangan iklim dan lingkungan.
Saras berbagi tentang bagaimana studinya di Australia memperluas perspektifnya mengenai perubahan iklim, serta bagaimana ia menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya dalam pekerjaannya di bidang perubahan iklim dan keberlanjutan di Indonesia.
Episode ini juga membahas berbagai tantangan iklim dan lingkungan yang dihadapi Indonesia, langkah praktis yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, serta peluang bagi generasi muda yang ingin berkontribusi pada aksi iklim dan keberlanjutan.
🎧 Simak selengkapnya untuk mengetahui bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di Australia dapat diterapkan sebagai aksi nyata dalam mengatasi perubahan iklim di Indonesia.
*woosh*
Fitrah Ningsih: Apa yang paling unik dari pengalaman mempelajari perubahan iklim di Australia jika dibandingkan dengan pengalaman belajar Mbak Saras sebelumnya?
*woosh*
Saraswati Siahaan: Berpikir kritis, bagaimana melihat suatu masalah bukan dari satu sisi, jadi bukan benar atau salah, apalagi ketika kita berbicara tentang perubahan iklim, tidak bisa hanya satu pemikiran saja, harus bersama-sama.
*woosh*
Saraswati Siahaan: Di Australia, terdapat sistem pemetaan pohon, sehingga setiap pohon memiliki data dan informasi tersendiri, termasuk jenis tanamannya. Dengan adanya data tersebut, pengelolaan pohon dapat dilakukan dengan lebih baik.
*woosh*
Fitrah Ningsih: Apa saran Mbak bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam aksi iklim dan keberlanjutan, atau yang berminat melamar Beasiswa Australia Awards?
*Intro*
Fitrah Ningsih: Halo, OzListeners! Selamat datang di OzAlum Podcast tentang Australia, Beasiswa Australia Awards, para penerima beasiswa dan alumninya yang inspiratif bersama aku, Fitrah Ningsih. Teman-teman yang tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim, episode ini sangat cocok buat kamu. Di episode kali ini kita akan membahas pengalaman studi tentang perubahan iklim di Australia, mulai dari pembelajaran di kelas, fieldwork, hingga penerapan ilmu di dunia nyata.
Kita juga akan ngobrol tentang bagaimana studi di Australia membuka perspektif baru mengenai inovasi lingkungan dan aksi iklim yang bisa diterapkan di Indonesia. Hari ini aku sudah kedatangan salah satu narasumber yang akan berbagi cerita inspiratifnya, yaitu Mbak Saras. Mbak Saras ini adalah alumni Beasiswa Australia Awards yang mengambil Masters of Climate Change di Australian National University. Langsung saja, aku sapa, apa kabar, Mbak Saras?
Saraswati Siahaan: Hai mbak, kabar baik, terima kasih banyak. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih banyak atas kesempatan ini, senang sekali bisa bergabung.
Fitrah Ningsih: Kami juga senang sekali mbak, kita akan berdiskusi, dan akan mendengarkan cerita dan juga kisah inspiratif Mbak Saras selama di Australia. Mungkin saya ingin tahu lebih dalam tentang Mbak Saras sendiri, pengalamannya, dan juga perjalanan akademiknya selama di Australia.
Saraswati Siahaan: Baik. Terima kasih mbak. Jadi, hai semuanya, perkenalkan, nama saya Saraswati Boru Siahaan. Saya biasa dipanggil Saras. Saat ini saya bekerja di perusahaan PT. PLN (Persero), kantor pusat, tepatnya di Divisi Transisi Energi dan Keberlanjutan, subbidangnya Pengelolaan Perubahan Iklim.
Saat ini saya fokus untuk mendampingi studi terkait risiko iklim, dan juga bagaimana aset-aset PLN ini bisa adapt to climate change, resiliensinya, serta sekarang kita fokus untuk membangun roadmap, kemudian strategi dan action plan adaptasi. Mungkin kalau bicara tentang PLN, kita sudah melakukan berbagai upaya mitigasi. Saat ini, kita fokus untuk memperkuat di bidang adaptasinya, seperti itu. Nah, sebelumnya kalau bicara tentang Beasiswa Australia Awards, saya alumni tahun 2020.
Fitrah Ningsih: Oke. Cukup lama ya.
Saraswati Siahaan: Waktu berlalu, ternyata sudah enam tahun lalu, ya kan. Jadi, saya mengambil Masters of Climate Change di Australian National University di Canberra, 2018 sampai 2020. Itu merupakan pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya.
Fitrah Ningsih: Tapi masih ingat, bagaimana cerita di sana dan juga perkuliahan di sana. Nah, Mbak Saras ini kan mengambil studi tentang perubahan iklim. Apa sebenarnya yang menginspirasi Mbak Saras untuk mengambil studi perubahan iklim ini? Apalagi di zaman sekarang, isu climate change sangat penting bagi Indonesia.
Saraswati Siahaan: Ya, terima kasih untuk pertanyaannya. Jadi, kalau boleh saya sedikit cerita, back then in 2015, ya. Saya baru lulus. Sebenarnya, background saya adalah pendidik. Saya seorang guru di bidang biologi, sebenarnya. Namun, ketika tamat di 2015, saya sempat mengajar di beberapa sekolah di Medan, di Kota Medan. Saya mengajar SD, SMP juga. Tepatnya di bidang sains, subjek sainsnya. Kemudian, saya tertarik juga menjadi volunteer. Jadi, kenapa saya terekspos dengan climate change itu ketika saya bergabung di komunitas volunteer di Medan, namanya Youth for Climate Change.
Dari situ, karena saya senang ya, di bidang pendidikan dan lingkungan. Ketika itu ada juga semacam camp ya, camping untuk youth, namanya Youth Leadership for Climate Change. Dari sana saya semakin tertarik karena ternyata, di tahun itu, 2015–2016, belum banyak yang tahu tentang perubahan iklim. Mungkin di Jakarta, informasi tentang ini cukup banyak. Tapi kalau kita pergi lagi ke daerah, mungkin Medan bukan daerah, termasuk kota, tapi tetap saja informasi terkait perubahan iklim itu belum begitu banyak.
Sehingga saat itu, mungkin saya survei kecil-kecilan, bersama orang tua, atau sama kakak di rumah. Apa itu perubahan iklim, gitu. Jadi, saya merasa banyak orang belum tahu, nih, apa yang bisa saya lakukan. Saya kan background-nya di tenaga pendidik. Tenaga pendidik pastinya bisa raise awareness, itu sangat bisa membantu di bidang itu, kan. Jadi, makanya saya semakin tertarik dan pada akhirnya ikut camping tadi. Saya semakin belajar lagi.
Kebetulan, dalam camping itu, kita juga diberikan kesempatan mengikuti program di Amerika selama 10 hari. Di sana, saya juga belajar bahwa dari kebiasaan adat juga bisa kita perkuat untuk berkontribusi pada aksi iklim, seperti itu. Dari situ saya tertarik, oh, kenapa saya yang background-nya tenaga pendidik tidak bisa berkontribusi pada saat itu, ya? Jadi, saya semakin tertarik lagi dan kebetulan ada Beasiswa Australia Awards, thank God. Saya sangat senang diberi kesempatan akhirnya bisa belajar. Itu sih sebenarnya.
Dan harapan saya sebenarnya memang ingin berkontribusi untuk raise awareness. Nah, kebetulan, kalau mungkin agak panjang sedikit, nggak apa-apa, ya. Kebetulan saya bekerja di PLN. Apakah saya bisa raise awareness lagi, gitu, kan? Saya masih bertanya-tanya dengan esai yang kemarin saya kerjakan. Ternyata, thank God again, di PLN ini sangat luas ternyata. Kita juga sedang membangun kurikulum perubahan iklim. Jadi, kemarin saya juga salah satu tim yang berkontribusi untuk membuat silabus dan kurikulum terkait perubahan iklim. Bahkan, ada kesempatan untuk mengajar pegawai-pegawai lain terkait perubahan iklim. Jadi, ya, saya merasa, oh, saya merasa, oke, aku bisa melaksanakan apa yang sudah aku tulis di esai.
Fitrah Ningsih: Dan juga bisa berkontribusi dan menjadi agen perubahan. Padahal bisa dibilang kalau S1 jurusannya agak sedikit berpindah, ya.
Saraswati Siahaan: Betul sekali.
Fitrah Ningsih: Perubahan iklim, tetapi sudah punya pengalaman yang tadi untuk kontribusi di aksi iklim. Oke, ada satu pertanyaan lagi nih. Kenapa memilih Australia?
Saraswati Siahaan: Oke. Ya, itu pertanyaan menarik. Kenapa memilih Australia? Sebenarnya karena ada Beasiswa Australia Awards.
Fitrah Ningsih: Wow, okay, bisa lebih dijelaskan, Mbak.
Saraswati Siahaan: Karena ada Beasiswa Australia Awards, sehingga saya ingin ke Australia. Itu mungkin alasan yang sejujurnya, dan beberapa alasan lain. Pertama, karena kalau kita bicara tentang perubahan iklim, sepertinya Australia itu adalah contoh yang bisa langsung kita rasakan. Karena extreme weather itu ada di Australia, kekeringan, extreme temperature, itu bisa kita rasakan. Jadi, bukan hanya belajar teori, bahkan bisa langsung merasakan dan melihat apa yang sudah dilakukan di Australia. How they manage climate change, seperti itu kita bisa lihat.
Jadi, itu merupakan alasan terkuat saya kenapa memilih di Australia dan juga tidak banyak sepertinya negara-negara yang benar-benar menawarkan Masters of Climate Change. Mungkin ada beberapa negara menawarkan Masters in Sustainability, spesifiknya climate change, tapi ini Masters of Climate Change langsung.
Fitrah Ningsih: Jadi, itu yang menjadi motivasi Mbak Saras kenapa memilih Australia. It's because of the Australia Awards Scholarship. Nah, saya ingin tahu juga. Mungkin kita perdalam sedikit tentang studinya di Australia. Semoga masih ingat. Long time ago. Nah, apa sih yang paling unik dari pengalaman mempelajari perubahan iklim di Australia jika dibandingkan dengan pengalaman Mbak Saras belajar sebelumnya?
Saraswati Siahaan: Oke, kalau unik banyak sebenarnya yang bisa dipelajari ketika di kelas, tapi yang paling saya ingat adalah the way you think. Itu yang benar-benar mengajarkan saya bagaimana cara berpikir dengan benar. Apalagi berpikir kritis. Bagaimana kita melihat satu masalah itu bukan dari satu sisi. Jadi tidak ada benar salah, apalagi kalau kita bicara tentang climate change. Tidak bisa hanya satu pemikiran saja, atau satu sektor saja yang berkontribusi ataupun yang bisa menyelesaikan masalah itu, tetapi harus bersama-sama. Jadi, kita lihat dari berbagai sudut, bahkan geopolitik juga dilihat, ekonomi, public policy, banyak hal yang bisa kita lihat dari hal tersebut.
Sehingga, saya belajar bagaimana kita dapat menyelesaikan satu masalah itu bukan hanya dari satu sisi. Dan, ini juga saya bawa di dalam pekerjaan saya saat ini. Misalnya seperti yang saya sebutkan tadi, bahwa saya saat ini merupakan bagian untuk menyusun climate risk ya, studi terkait climate risk di PLN.
Nah, ketika kita sudah meng-assess climate risk, di aset PLTU A, misalnya. Lalu, apa selanjutnya. Jadi, dari ilmu yang kita dapat di Australia, kita juga berpikir, oh ini tidak semua orang punya capability untuk adaptasi yang sama, meskipun asetnya sama. Bisa jadi topografi yang berbeda atau kemampuan finansial, meskipun itu sama-sama milik PLN, tetapi kan punya kemampuan finansial masing-masing nih di aset. Dari situ juga dengan pengalaman dari Australia, saya dapat menerapkannya di pekerjaan saya saat ini, bagaimana juga menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing, seperti itu.
Fitrah Ningsih: Jadi bisa disesuaikan ya dimana kita berada. Dari pelajaran yang didapatkan di Australia. Nah, aku ingin tahu, apa pendekatan inovatif, teknologi, kebijakan, atau praktik keberlanjutan yang secara khusus bisa memengaruhi cara pandang atau pemikiran Mbak Saras, yang seperti tadi sudah dijelaskan, apakah mungkin di dalam kelasnya ada pendekatan yang berbeda oleh dosennya, atau seperti apa sih Mbak?
Saraswati Siahaan: Ya, saya teringat itu salah satu mata pelajaran yang saya ambil ya, itu ArcGIS, GIS. Mungkin di Indonesia juga ada, tapi bagi saya yang latar belakang non teknis, itu hal yang baru.
Fitrah Ningsih: Apa itu?
Saraswati Siahaan: ArcGIS. Aplikasi, aplikasi mapping, pada saat itu saya belajar how to develop urban city tetapi dari map tersebut, apakah tempat ini yang layak atau yang cocok untuk dibangun. Nah, ternyata dari ArcGIS itu kita belajar banyak hal yang dimasukkan, bahkan potensi kebakaran. Karena, di Australia kita tahu itu alami ya, terjadi akibat kekeringan dan juga vegetasi yang ada di sana. Itu juga masuk ke dalam salah satu item untuk dianalisis, lalu jarak dengan pantai, banyak hal ternyata yang masuk di GIS. Dan menurut saya yang juga bagus sekali, salah satunya di GIS saya mengetahui bahwa di Australia itu sudah ada mapping tree. Oke. Iya, mapping tree. Jadi pohon-pohon di sana itu punya map-nya sendiri, ada datanya. Bahkan ada spesifik itu tanaman apa saja.
Fitrah Ningsih: Jadi bisa lihat langsung.
Saraswati Siahaan: Jadi bisa benar-benar di-manage. Hal tersebut menurut saya wah sekali. Itu tahun 2018, 2020.
Fitrah Ningsih: Saat itu pun mereka sudah punya dan sudah sangat maju. Apakah di Indonesia itu sudah bisa diterapkan atau mungkin ada pendekatan?
Saraswati Siahaan: Di Indonesia saya masih belum begitu tahu ya informasi, apakah kita sudah punya mapping, mungkin ada di beberapa daerah, tidak semua. Tapi kalau di Australia saya rasa sudah semua gitu, seluruh Australia. Jadi mungkin, ada kita beberapa ya.
Fitrah Ningsih: Apakah itu bisa menjadi salah satu fokus saran nya mbak Saras atau gimana mbak?
Saraswati Siahaan: Bisa saja sebenarnya, ya, tetapi kembali lagi banyak hal yang harus kita cari ya. Permasalahan di Indonesia kan selalu berkaitan dengan data biasanya.
Fitrah Ningsih: So technology is really important as well, ya, untuk support bagaimana aksi iklim ini bisa kita dukung.
Saraswati Siahaan: Betul. Betul.
Fitrah Ningsih: Nah tadi kita sudah berbicara pengalaman Mbak Saras di dalam kelas, tentu kalau di Australia itu juga ada namanya fieldwork ya. Nah, aku ingin tahu pengalaman dalam kehidupan sehari-hari di Australia yang membentuk pemahaman Mbak Saras tentang keberlanjutan, baik itu mungkin fieldwork, atau di kehidupan sehari hari?
Saraswati Siahaan: Baik, mungkin kehidupan sehari hari, mungkin pemilihan sampah yang mungkin udah familiar ya, tapi yang saya kagum itu, bahkan sampai pemilihan tempat sampah baterai.
Fitrah Ningsih: Jadi semuanya dipisah.
Saraswati Siahaan: Iya ada tempatnyalah. Misalnya organik, anorganik, atau botol plastik itu sudah biasa, ya kan. Cuma saat saya dulu itu, sangat detail, sampai tempat baterai itu khusus. Lalu yang saya pelajari, yang menurut saya sebenarnya bagus sekali untuk dicontoh sama Indonesia, salah satunya yang memberikan barang-barang bekas kan, seperti sepeda gratis, baju, karena itu dapat menjadi salah satu cara kita untuk sustain kan.
Fitrah Ningsih: Betul.
Saraswati Siahaan: Dan the way they deliver itu juga sangat bagus, kenapa saya bilang begitu, mereka menaruh baju mereka, bukan baju yang kotor, tetapi dibersihin dulu. Sepatunya juga di tempat-tempat yang khusus, dan bisa diambil siapapun. Nah, budaya seperti ini sebenarnya sangat bagus untuk dicontoh.
Fitrah Ningsih: Bisa diterapkan.
Saraswati Siahaan: Iya, kadang kan di Indonesia ini mungkin tidak semua, mungkin ada beberapa orang, bahkan sampai udah dibilang ya, tidak layak dipakai. Masih disimpan.
Fitrah Ningsih: Mbak Saras, kita bisa dorong ya untuk raising awareness bahwa ini harus menjadi kebiasaan kita sehari-hari ya. Jadi proses pemilihan sampah. I know it's hard and it's difficult, but you're here, as you said, your mission is to raise awareness. Aku dukung Mbak, kita sama sama ngelakuin itu.
Nah, tadi sudah berbicara banyak tentang pengalaman Mbak Saras di Australia. Mungkin setelah Mbak Saras kembali lagi ke Indonesia ini, mendapatkan ilmu dan pengalaman dari Australia, saya mau mendengar nih, setelah kembali di Indonesia, apa pengalaman tersebut bisa mempengaruhi cara Mbak Saras menghadapi tantangan perubahan iklim dan isu-isu lingkungan saat ini terutama mungkin dari pekerjaannya.
Saraswati Siahaan: Oke, iya, tadi sempat saya utarakan bahwa memang cara berpikir, cara menghadapinya juga harus dilihat berbagai sisi, itu yang paling saya terapkan di kerjaan saat ini. Dimana, dalam menyusun sekarang ini juga kita sedang menyusun Climate Resilient Infrastructure Guideline. Itu adalah pedoman untuk memperkuat resiliensi aset-aset kita.
Disitu juga banyak tantangan sebenarnya, karena data kita juga, kalau bicara iklim ini kan tarikan datanya 30 tahun minimal. Hal itu juga menjadi tantangan sebenarnya untuk kita. Kalaupun kita tarik data misalnya di BMKG, mungkin tempat-tempat tertentu bisa, gitu, tapi ada tempat-tempat tertentu yang masih bolong-bolong.
Fitrah Ningsih: Daerah-daerah terpencil gitu.
Saraswati Siahaan: Betul.
Fitrah Ningsih: Saya rasa salah satu permasalahan di Indonesia adalah terkait pengambilan data.
Saraswati Siahaan: Iya, betul, itu juga menjadi tantangan. Tapi kembali, jika saya ingat lagi bagaimana pelajaran di Australia, walaupun data itu tidak ada, ada beberapa pendekatan yang bisa kita lakukan untuk mengisi gap itu, apakah kita menggunakan pola ataupun rata-rata seperti itu. Nah hal ini juga saya coba juga yang saya terapkan bersama teman-teman juga, kita bekerja sama untuk bagaimana kita menyusun, untuk dapat mengisi gap tersebut, misalnya dengan questioner atau langsung ke fieldwork nanya pengalaman gitu kan, apa yang mereka rasakan, history-nya, seperti apa yang sudah terjadi, resiko iklim apa aja yang sudah terjadi, apakah banjir dan segala macam, dan apa yang sudah mereka lakukan. Mungkin dari situ sih, jadi kualitatif, campur kuantitatif kira-kira.
Fitrah Ningsih: Memang setiap daerah juga beda-beda ya, masalah yang dihadapi ada banjir, ada gempa, dan sometimes it's unpredictable.
Saraswati Siahaan: Betul sekali.
Fitrah Ningsih: Bisakah Mbak Saras menceritakan sebuah proyek, inisiatif, kebijakan atau pekerjaan yang pernah Mbak kerjakan di mana ilmu atau keterampilan yang Mbak peroleh dari Australia itu bisa memberikan kontribusi dan hasil yang positif bagi lingkungan atau upaya penanganan perubahan iklim?
Saraswati Siahaan: Baik. Untuk inisiatif seperti sebelumnya yang saya jelaskan, ada beberapa pendampingan studi terkait climate risk, dan juga pembuatan pedoman. Nah untuk teknologinya itu, sekarang itu kita masih mengembangkan, itu namanya Climate Click, sudah mulai diterapkan dari tahun lalu, dimana aplikasi ini sebenarnya sangat mempermudah kita. Memang ini untuk internal, tetapi dampaknya besar dalam mempermudah pekerjaan kita.
Di dalam aplikasi Climate Click itu, kita juga ada bagian adaptasi. Jadi, disitu juga kita menjelaskan, perubahan iklim, resiko perubahan iklim itu apa-apa saja. Karena tidak semua pegawai juga punya pengetahuan yang sama terhadap risiko iklim itu apa. Bahkan mungkin gempa, masih menganggap bahwa itu bagian dari iklim, karena kan gempa bukan, tsunami bukan. Sehingga di situ kita jelaskan mana yang bahaya iklim, mana yang bukan, kemudian mereka masukkan di sana dan kita menyediakan juga dashboard, di dalam itu tinggal masukin apa aja langkah mereka, berapa kerugian, berapa biaya recovery-nya, sehingga itu juga bisa menjadi tarikan data kita untuk buat pelaporan.
Kita kan juga concern terhadap pelaporan-pelaporan yang sering terjadi misalnya IFRS, itu terkait dengan bagaimana pelaporan perusahaan terhadap sustainability. Untuk ini khusus untuk IFRS2, S2 khusus iklim, juga ESG report, jadi semua data-data ini sangat diperlukan karena untuk pelaporan kita, CDP (Carbon Disclosure Project), jadi PLN ini bener-bener concern, bagaimana kita juga terbuka terhadap bahaya iklim apa saja yang ada di PLN, kemudian apa saja yang sudah kita lakukan dan kemampuan kita seperti apa, sehingga untuk green financing ke depan juga kan sangat memperhatikan itu.
Fitrah Ningsih: Jadi di aplikasi ini dia sudah terintegrasi.
Saraswati Siahaan: Betul, aplikasi inilah yang membantu, yang selama ini belum ada. Jadi ada beberapa, topik di dalam dashboard itu, terdapat inventarisasi, emisi, ada adaptasi, ada mitigasi. Nah selama ini, inventarisasi itu secara manual dilaporkan ke kita di pusat.
Fitrah Ningsih: Dan ini sudah di integrasi.
Saraswati Siahaan: Kemudian adaptasi sudah ada gitu, kemarin masih belum.
Fitrah Ningsih: Dan ini menurut Mbak Saras akan juga berdampak pada pekerjaan yang dilakukan oleh PLN, tetapi juga bisa berdampak bagi masyarakat luas kedepan. Dan aku mau tahu juga, menurut Mbak Saras, apa tantangan iklim atau lingkungan yang paling besar di Indonesia saat ini, dan peluang apa yang sekiranya bisa memberikan harapan untuk masa depan Indonesia, untuk menghadapi perubahan iklim.
Saraswati Siahaan: Oke, untuk tantangan ya, mungkin data yang saya bilang tadi, sih, saat ini para researcher sudah mulai mencari cara untuk fill the gap. Sehingga mulai banyak riset-riset, publikasi terkait climate change, climate crisis.
Fitrah Ningsih: Bahkan dengan teknologi.
Saraswati Siahaan: Betul. Kalau bicara lagi tentang aksi, saya rasa sudah banyak kolaborasi yang sudah ada. Mungkin yang perlu kita tingkatkan lagi, di kebijakannya sebenarnya. Bagaimana secara nasional kita juga dapat agar terkait iklim ini benar-benar.
Fitrah Ningsih: Harus pentahelix ya pendekatannya juga dan juga secara holistik.
Saraswati Siahaan: Betul.
Fitrah Ningsih: PLN tentu dari instansinya Mbak Saras sudah bisa bekerja sendiri, dan harus bersinergi bahkan dengan lintas sektor.
Saraswati Siahaan: Benar ya. Thankful sekarang memang sudah banyak kolaborasi, baik akademisi, pemerintah juga, bahkan juga kita selalu ikut dalam kegiatan international CoP, Conference of Parties dan ini di Turki. PLN juga ikut.
Fitrah Ningsih: Oke, that's good. Ya, Mbak Saras ini nggak terasa nih kita udah banyak ngobrol dan aku sangat terinspirasi dengan cerita dan juga pekerjaan yang Mbak Saras lakukan. Nah ada satu pertanyaan terakhir mungkin ya, banyak orang berpikir bahwa aksi iklim harus dimulai dari hal-hal yang besar. Kebijakan, teknologi, sometimes they think it's not my work, let the government do. Nah, menurut Mbak Saras, tindakan sederhana apa yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari? Yang tadi juga sudah dijelaskan bahwa ada kebiasaan orang Australia yang mungkin bisa kita terapkan di Indonesia? Is there anything else?
Saraswati Siahaan: Ya ya bener, saya setuju mbak. Jadi justru dari langkah kecil ya, bisa membuat perubahan yang besar. Ya banyak sekali sebenarnya yang bisa kita lakukan. Dari hal sederhana hari-hari kita, misalnya, bagaimana kita menggunakan transportasi umum, lebih cenderung menggunakan transportasi umum, atau ketika kita pergi dengan jarak tempuh 1 kilo, dan itu sudah saya aplikasikan jalan kaki.
Fitrah Ningsih: Sama mbak, aku juga ke kantor jalan.
Saraswati Siahaan: Lebih sehat kan?
Fitrah Ningsih: Betul.
Saraswati Siahaan: Bagaimana juga kita memilih makanan juga ya sederhana.
Fitrah Ningsih: Food waste, sometimes kita ambil yang banyak, tapi gak bisa menghabiskan.
Saraswati Siahaan: Betul. Lapar mata ya. Jadi pilihlah sesuai dengan kebutuhan. Kemudian yang mungkin yang kita bisa terapkan tadi yang dari Australia, bagaimana barang-barang yang masih bagus, kita berikan, ada tempatnya, kalau bisa berkolaborasi dengan pemerintah lokal sih, disediakan tempat.
Fitrah Ningsih: Saya lihat sudah mulai banyak. Mulai ada bank-bank sampah.
Saraswati Siahaan: Bank sampah ya. Iya benar. Itu mungkin lebih ditingkatkan, seperti misalnya, minyak bekas, ibu-ibu rumah tangga. Minyak bekas juga sudah disediakan, tapi mungkin tidak semua yang tahu. Mungkin dapat lebih banyak lagi kita dorong.
Fitrah Ningsih: Harus kita dorong.
Saraswati Siahaan: Dan spread the information ya. Betul, betul.
Fitrah Ningsih: Oke Mbak Saras, mungkin yang terakhir kalau ada pesan bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam aksi iklim dan keberlanjutan, atau mungkin nih ada para OzListener yang tertarik melamar Beasiswa Australia Awards dengan jurusan yang sama? Mungkin bisa disampaikan?
Saraswati Siahaan: Baik. Buat teman-teman yang mau melamar jurusan perubahan iklim melalui Beasiswa Australia Awards, persiapkan diri, tidak harus in-line sekali antara S1 sama S2, yang penting bagaimana background kita itu dapat kita in-line-kan ketika kita pulang, kontribusinya. Misalnya walau background-nya berbeda, tetapi masih ada dalam satu rumpun. Jadi, kalau menurut saya, teman-teman tetap berpikir bagaimana kontribusi itu bisa diterapkan setelah pulang, ilmu yang didapat. Seperti kita sebenarnya sudah memiliki skill, tetapi skill ini belum cukup, sehingga untuk meningkatkan skill itu, kita perlu studi lanjut di bidang perubahan iklim. Kemudian setelah kita punya studi ini, skill dan ilmu yang kita dapat, kita gabungkan dan membuat kontribusi yang lebih besar. Sebenarnya itu saja sih, Mbak.
Fitrah Ningsih: Dan yang paling penting mau jadi agen perubahan ya.
Saraswati Siahaan: Betul sekali.
Fitrah Ningsih: Terima kasih banyak Mbak Saras sudah mau berbagi cerita dengan kami.
Saraswati Siahaan: Sama-sama.
Fitrah Ningsih: Wah, pesan yang sangat inspiratif banget, terutama buat teman teman yang tertarik dengan isu perubahan iklim, semoga obrolan hari ini bisa membuka perspektif baru tentang bagaimana pendidikan dapat menciptakan dampak nyata bagi lingkungan.
Karena kita sudah di penghujung episode, aku mau mengucapkan terima kasih banyak sekali lagi untuk Mbak Saras, yang sudah mau berbagi cerita dan pengalaman hari ini. Nah, untuk teman-teman semuanya, aku mau mengingatkan jangan lupa cek website Australia Awards in Indonesia dan juga media sosial Kedubes dan Konjen Australia di sini ya, karena semua informasi soal Beasiswa Australia Awards akan di-update di sana.
Oh ya, Australia Awards in Indonesia mau bagi-bagi souvenir untuk 5 orang yang share podcast ini di media sosial. Teman teman boleh share di X atau Instagram Post or Story, mention Kedubes Australia, dan gunakan hashtag #OzAlumPodcast. Pemenang yang beruntung akan dihubungi oleh tim AAI. Jangan lupa untuk isi data dirinya juga di sini ya. Oke kalau begitu, thank you and see you in the next episode. Bye bye.
*outro*